Langsung ke konten utama

Tes Esai


TES ESAI

Description: Hasil gambar untuk GAMBAR LOGO TERBARU UIN MAKASSAR
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran
 Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan
UIN Alauddin Makassar

OLEH: Kelompok 5

YULIASTI                             20100116052
APRILIANTI HASAN          20100116075
RISMAWATI                         20100116084
ABDUL JALIL                      20100116085


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2019




I.       PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Evaluasi menjadi hal yang penting dan harus diperhitungkan oleh pendidik dalam menilai kemampuan peserta didik terhadap materi yang diajarkan. Penilaian adalah kegiatan yang tidak mungkin dipisahkan dari kegiatan pendidikan dan pengajaran secara umum. Semua kegiatan pendidikan yang dilakukan harus selalu diikuti atau disertai dengan kegiatan penilaian. Pada hakikatnya penilaian yang dilakukan tidak semata-mata untuk menilai hasil belajar peserta didik saja, melainkan juga berbagai faktor lain, antara lain kegiatan pengajaran yang dilakukan itu sendiri.[1]
Tes sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik, diharapkan mampu memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Artinya, alat tes dapat memberikan informasi tentang peserta didik sesuai keadaan yang mendekati sesungguhnya.[2]
Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar peserta didik, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Walaupun demikian, dalam batas tertentu tes dapat pula digunakan untuk mengukur atau menilai hasil belajar pada bagian afektif dan psikomotor.[3]
Tes menurut Gronlund dalam Nurgiyantoro merupakan sebuah instrumen atau prosedur yang sistematis untuk mengukur suatu sampel tingkah laku, misalnya untuk menjawab pertanyaan “seberapa baik (tinggi) kinerja seseorang” yang jawabannya berupa angka.[4]
Format soal tes dapat berbentuk tes objektif dan tes subjektif yang salah satu bentuknya adalah tes bentuk esai. Jika dalam menyusun tes objektif harus mengikuti berbagai langkah dan prosedur yang ketat, maka sudah tentu untuk menyusun tes bentuk esai pun harus mengikuti prinsip-prinsip pengukuran yang baik dan benar pula. Makalah ini akan membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan tes esai.
B.     Rumusan Masalah
1.    Apakah pengertian tes esai?
2.    Bagaimana ciri-ciri tes esai?
3.    Bagaimana jenis-jenis tes esai?
4.    Apakah kelebihan dan kelemahan tes esai?
5.    Bagaimana langkah-langkah penyusunan tes esai?
6.    Bagaimana mengatasi kelemahan tes esai?
7.    Bagaimana menskor nilai tes esai?





II.    PEMBAHASAN
A.  Pengertian Tes Esai
Secara ontology tes esai adalah salah satu bentuk tes tertulis, yang susunannya terdiri atas item-item pertanyaan yang masing-masing mengandung permasalahan dan menuntut jawaban siswa melalui uraian-uraian kata yang merefleksikan kemampuan berpikir siswa.[5]
Tes esai atau uraian merupakan salah satu tes hasil belajar yang dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar, untuk mengetes daya ingat dan pemahaman testee terhadap materi pelajaran yang ditanyakan dalam tes. Serta kemampuan testee dalam memahami berbagai macam konsep berikut aplikasinya. Tes esai atau tes subjektif ini digunakan bila jumlah testee-nya terbatas.[6]
Tes bentuk esai merupakan sejenis tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata.[7]
Tes esai juga disebut tes karangan yaitu tes yang disusun dalam bentuk pertanyaan/pernyataan bebas atau terstruktur; dan peserta didik menyusun serta mengorganisasikan sendiri jawaban tiap pertanyaan itu dengan bahasa sendiri. Tes esai ini sangat bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menjelaskan, melahirkan sendiri suatu ide atau pendapat dalam bahasa sendiri.[8]
Tes esai dapat juga disebut sebagai tes dengan menggunakan pertanyaan terbuka. Responden yang diharuskan menjawab dalam tes tersebut sesuai dengan pemahaman responden tentang program atau proyek yang dievaluasi.[9]
Kegagalan yang sering terjadi, yang berasal dari para evaluator adalah para guru atau evaluator dalam mengonstruksi pertaanyaan tidak dapat memotivasi para siswa agar mau mengungkapkan kemampuannya dalam menuangkan ide-ide mereka.[10]
B.  Ciri-ciri Tes Esai
Ciri-ciri dari tes esai yaitu pertanyaannya didahului dengan kata-kata seperti: uraikan, jelaskan, mengapa, bagaimana, bandingkan, simpulkan, dan sebagainya.[11] Bentuk pertanyaan atau item tes esai dapat dikonstruksi dengan menggunakan kata bantu pertanyaan tertentu yang mengandung unsur singkatan 4 W+1 H, where (dimana), who (siapa), what (apa), why (mengapa), dan how (bagaimana). Di samping itu, pertanyaan esai direncanakan secara sistematis untuk mendorong para siswa agar memiliki kemampuan mengekspresikan ide-ide mereka dengan menggunakan bahasa atau kata-kata mereka sendiri, menggunakan informasi dari pengakuan mereka sendiri, kemudian menuangkannya secara bebas dalam lembaran jawaban yang ada. Kemampuan mengekspresikan ide-ide siswa sendiri itulah yang sebenarnya merupakan kelebihan dari tes esai.[12]



Berikut ini beberapa ciri utama tes esai ialah:
1.    Setiap peserta ujian menyusun jawaban sendiri dengan meminimalkan hambatan yang akan timbul.
2.    Peserta didik menggunakan bahsa dan kata-kata sendiri dalam menjawab pertanyaan (biasanya menggunakan tulisan tangan sendiri atau mungkin juga komputer).
3.    Pertanyaan yang diajukan lebih bersifat umum dan sangat sedikit jumlahnya, serta kurang mewakili semua bahan/materi belajar.
4.    Peserta didik mengemukakan jawaban-jawabannya dengan bermacam kelengkapan dan ketelitian, sesuai dengan kondisi masing-masing.[13]
Adapun ciri-ciri tes uraian yang lainnya yaitu sebagai berikut:
1.    Berbentuk pertanyaan
Tes tersebut berbentuk pertanyaan atau perintah yang menghendaki jawaban berupa uraian atau paparan kalimat yang pada umumnya cukup panjang.
2.    Menuntut untuk memberikan pendapat
Tes tersebut bentuk-bentuk pertanyaan atau perintah menuntut untuk memberikan penjelasan, komentar, penafsiran, membandingkan, membedakan dan sebagainya.
3.    Jumlah butir soal terbatas.
Tes uraian jumlah butir soalnya uumnya berkisar antara lima sampai dengan sepuluh butir.
4.    Pada umumnya butir-butir soal tes uraian diawali dengan kata-kata jelaskan, mengapa, bagaimana, terangkan, uraikan, dan kata-kata lain yang hampir sama dengan itu.[14]
C.  Jenis-jenis Tes Esai
Tes esai dapat dibedakan atas 2 bentuk, yaitu:
1.    Tes Esai Bebas
Tes esai jenis ini membuka kesempatan kepada setiap pengikut tes untuk mengeluarkan pendapat sesuai dengan yang diketahuinya. Bebas dalam berargumentasi, berkenaan dengan suatu butir soal, menurut pandangan masing-masing. Satu hal yang perlu diingat bahwa setiap tes esai hendaklah mengandung problematik, bukan hanya sekedar menanyakan fakta-fakta saja.[15]
Contoh: Ceritakan dengan jelas, bagaimanakah hubungan antara perencanaan pendidikan dan pembangunan ekonomi!
2.    Tes Esai Berstruktur
Soal yang disusun tidak mengembang tetapi lebih terarah dan terbatas, sehingga ada batasan jawaban. Walaupun kalimat jawaban perserta didik itu beraneka ragam, tetapi harus ada pokok-pokok penting yang terdapat dalam sistematika jawabannya sesuai dengan batas-batas yang telah ditentukan dan dikehendaki dalam soalnya.[16]
Contoh: Sebutkan dan jelaskan secara singkat tiga peristiwa yang terjadi pada masa Khulafaur Rasyidin!
Tes esai menurut Grounlund (1990) dalam Sukardi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
a.       Tes esai dengan jawaban panjang.
b.      Tes esai dengan jawaban singkat.[17]
Tes esai dikatakan dengan jawaban panjang, apabila dalam aplikasi tes memerlukan jawaban siswa secara luas. Evaluator dalam hal ini, memberikan kesempatan kepada para siswa atau evaluand untuk memberikan jawaban secara tuntas, dan jelas. Sedangkan pada sisi evaluand, para siswa juga diberikan kesempatan untuk mengorganisasi penuangan ide tersebut menjadi satu kesatuan sehingga mudah dipahami oleh para siswa. Tes esai dikatakan sebagai jawaban terbatas, apabila dalam menjawab para siswa hanya diminta menguraikan ide-idenya secara singkat dan tepat sesuai dengan spasi atau ruang yang disediakan oleh para evaluator. Jawaban pertanyaan tes esai terbatas ini biasanya mengarah kepada jawaban yang lebih spesifik dan lebih pasti seperti kunci jawaban yang telah dibuat evaluator.[18]
D.  Kelebihan dan Kelemahan Tes Esai
Menurut Sukardi tes esai masih banyak digunakan oleh para guru dalam proses belajar mengajar di kelas, karena tes esai memiliki beberapa kelebihan, yakni tes esai dapat digunakan untuk menilai hal-hal yang berkaitan erat dengan beberapa butir berikut.
1.    Mengukur proses mental para siswa dalam menuangkan ide ke dalam jawaban item secara tepat.
2.    Mengukur kemampuan siswa dalam menjawab melalui kata dan bahasa mereka sendiri.
3.    Mendorong siswa untuk mempelajari, menyusun, merangkai, dan menyatakan pemikiran siswa secara aktif.
4.    Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun dalam bentuk kalimat mereka sendiri.
5.    Mengetahui seberapa jauh siswa telah memahami dan mendalami suatu permasalahan atas dasar pengetahuan yang diajarkan di dalam kelas.[19]
Sukardi juga berpendapat di dalam bukunya yang lain beberapa kelebihan tes esai yang sering digunakan dalam evaluasi program di antaranya adalah:
1.    Dapat mengukur kemampuan responden dalam menjawab pertanyaan evaluatif melalui kata dan bahasa mereka sendiri;
2.    Mendorong para penyelenggara dan staf yang terlibat dalam program atau proyek yang dievaluasi untuk memperdalam cara menyusun, merangkai, dan menyatakan pemikiran siswa secara aktif;
3.    Mempermudah evaluator dalam menyusun pertanyaan evaluatif.[20]
Adapula kebaikan-kebaikan yang dikemukakan oleh Suharsimi, yaitu:
1.    Mudah disiapkan dan disusun.
2.    Tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untung-untungan.
3.    Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun dalam bentuk kalimat yang bagus.
4.    Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya dengan gaya bahasa dan caranya sendiri.
5.    Dapat diketahui sejauh mana siswa mendalami sesuatu masalah yang diteskan.[21]
Selain beberapa kelebihan seperti yang telah diuraikan di atas, ternyata tes esai juga memiliki beberapa kelemahan yang perlu diperhatikan oleh seseorang, di antaranya sebagai berikut.
1.    Saat memeriksa jawaban pertanyaan esai, ada kecenderungan pengaruh subjektif yang selalu muncul dalam pribadi seorang guru. Ini terjadi, utamanya ketika telah terjadi hubungan moral yang baik antara para siswa dengan guru.
2.    Pertanyaan esai yang disusun oleh seorang guru atau evaluator cenderung kurang bisa mencakup seluruh materi yang telah diberikan.
3.    Bentuk pertanyaan yang memiliki arti ganda, sering membuat kesulitan pada siswa sehingga memunculkan unsur-unsur menerka dan menjawab dengan ragu-ragu, ditambah lagi aspek mana yang ditekankan juga sukar dipastikan.[22]
Keburukan atau kelemahan lainnya yang diungkapkan oleh Suharsimi yaitu:
1.    Kadar validitas dan reabilitas rendah karena sukar diketahui segi-segi mana dari pengetahuan siswa yang betul-betul telah dikuasai.
2.    Kurang representatif dalam hal mewakili seluruh scope bahan pelajaran yang akan dites karena soalnya hanya beberapa saja (terbatas).
3.    Cara memeriksanya banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektif.
4.    Pemeriksaanya lebih sulit sebab membutuhkan pertimbangan individual lebih banyak dari penilai.
5.    Waktu untuk koreksinya lama dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain.[23]
Kelemahan yang sering umum terjadi dari tes ini ialah kesukaran dalam hal menilai jawaban, karena jawaban siswa bisa bervariasi, sulit menentukan kriteria penilaian, sangat subjektifkarena bergantung pada guru sebagai penilainya.[24]
Bentuk tes esai perlu dipertimbangkan dan dibatasi pelaksanaannya di sekolah, bedasarkan mempertimbangkan kelebihan serta kelemahan di atas dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pertimbangan yang dimaksud antara lain dikemukakan sebagai berikut:
1.    Jumlah peserta didik yang akan dites relative kecil, dan alat tes itu sendiri tidak akan dipergunakan lagi.
2.    Guru bermaksud memberanikan peserta didik untuk mengemukakan kemampuan berpikirnya dalam tingkatan kognitif yang tinggi dalam bentuk ekspresi tulis.
3.    Guru lebih bermaksud untuk menilai proses berpikir peserta didik daripada hasil pemikirannya itu sendiri. Jadi, yang diutamakan adalah penalaran, kejelasan, dan keruntutan cara berpikirnya.
4.    Guru yakin pada kemampuan sendiri dan berlaku konsistensi dan objektif untuk bertindak sebagai pembaca yang kritis, bukan sebagai penulis yang membayangkan jawaban seperti dalam menyusun tes objektif.
5.    Guru tahu pasti bahwa guru mempunyai waktu yang cukup untuk memeriksa pekerjaan peserta didik.[25]
E.  Langkah-langkah Penyusunan Tes Esai
Untuk tercapainya tujuan evaluasi di dalam kelas, menurut Cross (1982) dalam Sukardi, ada minimal tujuh langkah persiapan yang perlu dilakukan oleh seorang guru. Ketujuh langkah tersebut, yaitu:

1.    mengidentifikasi tujuan instruksional yang hendak dievaluasi,
2.    mengembangkan kisi-kisi kerja atau tabel spesifikasi yang menunjukkan persentase item-item untuk setiap tujuan dan cakupan isi,
3.    mendaftar semua isi pelajaran yang mencakup dalam silabus dan yang telah diberikan selama proses pembelajaran,
4.    memilih atau mengkonstruksi item-item dan menyusunnya dalam sebuah tes,
5.    menyelenggarakan ulangan kepada siswa dengan menggunakan tes yang telah disusun,
6.    menganalisis hasil tes yang telah dilakukan, dan
7.    membuat laporan sebagai masukan para pengambil keputusan.[26]
Ketika menyusun tes esai, seorang pendidik di sekolah, hendaklah mengikuti penunjuk penyusunan tes, di antaranya yaitu:
1.    Hendaknya soal-soal tes dapat meliputi ide-ide pokok dari bahan yang diteskan, dan kalau mungkin disusun soal yang sifatnya komprehensif.
2.    Hendaknya soal tidak mengambil kalimat-kalimat yang disalin langsung dari buku atau catatan.
3.    Pada waktu menyusun, soal-soal itu sudah dilengkapi dengan kunci jawaban serta pedoman penilaiannya.
4.    Hendaknya diusahakan agar pertanyaannya bervariasi antara “Jelaskan”, “Mengapa”, “Bagaimana”, “Seberapa Jauh”, agar dapat diketahui lebih jauh penguasaan siswa terhadap bahan.
5.    Hendaknya rumusan soal dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dipahami.
6.    Hendaknya ditegaskan model jawaban apa yang dikehendaki oleh penyusun tes. Pertanyaan ini tidak boleh terlalu umum, tetap harus spesifik.[27]
Agar diperoleh soal-soal bentuk uraian yang dikatakan memadai sebagai alas penilaian hasil belajar, hendaknya diperhatikan hal-hal berikut:
1.    Dari segi isi yang diukur
Segi yang hendak diukur hendaknya ditentukan secara jelas abilitasnya, misalnya pemahaman konsep, aplikasi suatu konsep, analisis suatu permasalahan, dan aspek kognitif lainnya. Dengan kejelasan apa yang akan diungkapkan maka soal atau pertanyaan yang dibuat hendaknya mengungkapkan kemampuan siswa dalam abilitas tertentu.[28]
Setelah abilitas yang hendak diukur cukup jelas, tetapkanlah materi yang ditanyakan. Saat memilih materi sesuai dengan kurikulumnya atau silabusnya, pilihlah materi yang esensial sehingga tidak semua materi perlu dipertanyakan. Materi esensial adalah materi yang menjadi inti persoalan dan menjadi dasar untuk penguasaan materi lainnya. Apabila konsep esensial dikuasai, maka secara keseluruhan siswa akan mengetahui aspek-aspek yang berkenaan dengan konsep tersebut. Aturlah penyajian pertanyaan secara berurutan mulai dari yang mudah menuju kepada yang lebih sulit, atau dari yang sederhana menuju kepada yang lebih kompleks. Gunakan bentuk uraian terbatas atau yang berstruktur.[29]
2.      Dari segi bahasa
Gunakan bahasa yang baik dan benar sehingga mudah diketahui makna yang terkandung dalam rumusan pertanyaan. Bahasanya sederhana, singkat, tetapi jelas apa yang ditanyakan. Hindari bahasa yang berbelit-belit, membingungkan, atau mengecoh siswa.[30]


3.      Dari segi teknis penyajian soal
Hendaknya jangan mengulang-ulang pertanyaan terhadap materi yang sama sekalipun untuk abilitas yang berbeda sehingga soal atau pertanyaan yang diajukan lebih komprehensif daripada segi lingkup materinya. Perhatikan waktu yang tersedia untuk mengerjakan soal tersebut sehingga soal tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Bobot penilaian untuk setiap soal hendaknya dibedakan menurut tingkat kesulitan soal. Soal-soal yang tergolong sulit diberi bobot yang lebih besar. Tingkat kesulitan soal dilihat dari sifat materinya dan abilitas yang diukurnya. Abilitas analisis lebih sulit daripada aplikasi dan pemahaman demikian juga sintesis lebih sulit daripada analisis. Sedangkan dari aspek materi, konsep lebih sulit daripada fakta.[31]
4.      Dari segi jawaban
Setiap pertanyaan yang hendak diajukan sebaiknya telah ditentukan jawaban yang diharapkan, minimal pokok-pokoknya. Tentukan pula besarnya skor maksimal untuk setiap soal yang dijawab benar dan skor minimal bila jawaban dianggap salah atau kurang memadai. Jangan sekali-kali mengajukan pertanyaan yang jawabannya belum pasti atau guru sendiri tidak tau jawabannya, atau mengharapkan kebenaran jawaban tersebut diperoleh dari siswa.[32]
F.     Mengatasi Kelemahan Tes Esai
Agar dapat meminimalkan hal-hal yang membuat lemahnya tes esai, dalam mempersiapkan soal-soal esai, para guru hendaknya memerhatikan beberapa pertimbangan berikut, antara lain:
a.    Menyediakan waktu yang cukup untuk menyusun pertanyaan dalam setiap soal. Walaupun banyak anggapan bahwa mengonstruksi tes esai adalah sangat mudah, karena setiap guru bisa membuat, soal-soal esai yang baik pembuatnya memerlukan kecermatan selain dilihat dari unsur bahasa juga perlu dilihat aspek substansi dari setiap item pertanyaan.
b.    Item pertanyaan yang direncanakan hendaknya memuat persoalan penting yang telah diajarkan dalam proses belajar mengajar.
c.    Permasalahan yang hendak dirumuskan memiliki arti yang dinyatakan secara eksplisit dalam tujuan instruksional.
d.   Kata-kata yang digunakan dalam pertanyaan hendaknya tidak diambil secara langsung dari buku/catatan. Para guru atau evaluator dapat memodifikasi atau menggunakan kata lain yang mungkin artinya sama agar siswa tidak semata-mata menghafal.
e.    Sebaiknya disertai/dilengkapi kunci jawaban. Membuat kunci jawaban sebaiknya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam pembuatan pertanyaan esai. Kegagalan membuat kunci jawaban akan membuat reliabilitas jawab bisa berubah secara signifikan.
f.     Pertanyaan esai yang direncanakan sebaiknya dibuat bervariasi dan bisa mencakup unit-unit mata pelajaran yang telah diajarkan di kelas.[33]
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memperbaiki tes esai, yaitu:
a.    Tiap pertanyaan yang disusun dalam tes harus direncanakan dengan baik dan hendaknya diarahkan untuk menguji salah satu tujuan pembelajaran. Namun jangan pula diartikan bahwa satu pertanyaan hanya boleh untuk satu tujuan pendidikan.
b.    Tiap pertanyaan hendaknya dirumuskan secara tepat, terbatas jawabannya, dan bukan merupakan pertanyaan yang sangat umum. Pertanyaan hendaknya spesifik, sehingga peserta didik tidak perlu membuat pilihan jawaban dari beberapa kemungkinan yang tidak perlu. Hali ini akan sangat memengaruhui daya pembeda dan reliabilitas pertanyaan atau tes yang disusun itu.
c.    Waktu yang disediakan hendaknya cukup sesuai dengan tuntutan jawaban yang dikehendaki.
d.   Seluruh pertanyaan hendaknya dapat mewakili semua bahan yang telah diberikan. Untuk itu, penyusunan soal didasarkan pada pola dasar, yang memuat ruang lingkup materi yang ingin diketahui (kisi-kisi).[34]
G.    Menskor Tes Esai
Memberikan skor tes esai dapat dikatakan mudah dan juga dapat dikatakan sukar. Dikatakan mudah, karena setiap guru pasti merasa bisa menilai jawaban yang diberikan oleh para siswanya termasuk penggunaan jawaban yang berasal dari tes esai, karena dalam pemberian skor pada tes esai tidak ada eksplanasi penilaian angka secara pasti diberikan. Sebaliknya, sebagian guru juga merasakan sukar dalam memberikan skor pada tes esai, karena banyak faktor selalu muncul yang sedikit banyak dapat memengaruhi dalam pengambilan keputusan dalam penilaian siswa. Faktor-faktor tersebut di antaranya subjektivitas, pertimbangan, dan pengaruh interaksi antara guru dengan para siswa selama dalam proses belajar mengajar berlangsung. Untuk mengatasi adanya pengaruh tiga faktor di atas, berikut ini beberapa petunjuk yang dapat digunakan sebagai acuan para guru. Saat pemberian skor tes esai, seorang guru sebaiknya:
1.    Menyusun jawaban kunci untuk setiap pertanyaan yang mengandung materi penting yang dapat digunakan sebagai acuan dasar ketika melakukan penilaian.
2.    Menentukan nilai dari setiap pertanyaan berdasarkan bobot permasalahan, kompleksitas jawaban, dan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan jawaban.
3.    Memutuskan berapa poin pengurangan skor penilaian apabila siswa melakukan kesalahan kecil, misalnya kesalahan ejaan, tanda baca, dan penggunaan kata.
4.    Mengevaluasi satu pertanyaan pada semua lembar jawaban, sebelum pindah ke pertanyaan lainnya.
5.    Guna mencek kesamaan kualitas jawaban, kelompokkan lembar jawaban siswa ke dalam 3-5 tumpukan dengan memerhatikan rangking dari yang tertinggi sampai terendah dan menempatkan lembar jawaban siswa ke dalam tumpukan yang ada atas dasar nilai yang dicapai.
6.    Usahakan dalam proses penilaian jawaban soal tidak melihat nama siswa penjawabnya.
7.    Disarankan untuk sering beristirahat untuk mencegah kelelahan dan kejenuhan yang dapat mengakibatkan pemberian skor berubah secara signifikan.[35]
Adapun langkah-langkah pemberian skor untuk soal bentuk uraian non-objektif adalah sebagai berikut:
1.    Tulislah garis-garis besar jawaban sebagai kriteria jawaban untuk dijadikan egangan dalam pemberitahuan skor.
2.    Tetapkan rentang skor untuk setiap kriteria jawaban.
3.    Pemberian skor pada setiap jawaban bergantung pada kualitas jawaban yang diberikan oleh peserta didik.
4.    Jumlahkan skor-skor yang diperoleh dari setiap kriteria jawaban sebagai skor peserta didik. Jumlah skor tertinggi dari setiap kriteria jawaban disebut skor maksimum dari suatu soal.
5.    Periksalah soal untuk setiap nomor dari semua peserta didik sebelum pindah ke nomor soal yang lain. Tujuannya untuk menghindari pemberian skor berbeda terhadap jawaban yang sama.
6.    Jika setiap butir soal telah selesai diskor, hitunglah jumlah skor perolehan peserta didik untuk setiap soal, kemudian hitunglah nilai tiap soal dengan rumus:
Nilai tiap soal= x bobok soal
7.  Jumlahkan semua nilai yang diperoleh dari semua soal. Jumlah nilai ini disebut nilai akhir dari suatu perangkat tes yang diberikan.[36]





III.        PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan menjadi beberapa butir seperti berikut.
1.    Secara ontologi tes esai merupakan salah satu bentuk tes tertulis, yang susunannya terdiri atas item-item pertanyaan yang masing-masing mengandung permasalahan dan menuntut jawaban siswa melalui uraian-uraian kata yang merefleksikan kemampuan berpikir siswa.
2.    Ciri-ciri dari tes esai yaitu pertanyaannya didahului dengan kata-kata seperti: uraikan, jelaskan, mengapa, bagaimana, bandingkan, simpulkan, dan sebagainya.
3.    Tes esai dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu a) tes esai dengan jawaban panjang, dan b) tes esai dengan jawaban singkat. Adapula pendapat lain yang membagi menjadi tes esai bebas dan tes esai berstruktur.
4.    Salah satu kelebihan yang dikemukakan oleh Sukardi juga berpendapat di dalam bukunya yang lain beberapa kelebihan tes esai yang sering digunakan dalam evaluasi program di antaranya adalah:
a.    Dapat mengukur kemampuan responden dalam menjawab pertanyaan evaluatif melalui kata dan bahasa mereka sendiri;
b.    Mendorong para penyelenggara dan staf yang terlibat dalam program atau proyek yang dievaluasi untuk memperdalam cara menyusun, merangkai, dan menyatakan pemikiran siswa secara aktif;
c.    Mempermudah evaluator dalam menyusun pertanyaan evaluative
5.    Minimal ada tujuh langkah persiapan yang perlu dilakukan oleh seorang guru, yaitu: a) mengidentifikasi tujuan instruksional yang hendak di evaluasi, b) mengembangkan kisi-kisi kerja atau table spesifikasi yang menunjukan persentase item-item untuk setiap tujuan dan cakupan isi, c) mendaftar semua isi pelajaran yang tercakup dalam silabus dan yang telah diberikan selama proses pembelajaran, d) memilih atau mengonstruksi item-item dan menyusunnya dalam sebuah tes, e) melenggarakan ulangan kepada siswa dengan menggunakan tes yang telah disusun, f) menganilisis hasil yang telah dilakukan, dan g) membuat laporan sebagai masukan para pengambil keputusan.
6.    Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memperbaiki tes esai, yaitu:
              a.          Tiap pertanyaan yang disusun dalam tes harus direncanakan dengan baik dan hendaknya diarahkan untuk menguji salah satu tujuan pembelajaran. Namun jangan pula diartikan bahwa satu pertanyaan hanya boleh untuk satu tujuan pendidikan.
             b.          Tiap pertanyaan hendaknya dirumudkan secara tepat, terbatas jawbannya, dan bukan merupakan perrtanyaan yang sangat umum. Pertanyaan hendaknya spesifik, sehingga peserta didik tidak perlu membuat pilihan jawaban dari beberapa kemungkinan yang tidak perlu. Hali ini akan sangat memengaruhui daya pembeda dan reliabilitas pertanyaan atau tes yang disusun itu.
              c.          Waktu yang disediakan hendaknya cukup sesuai dengan tuntutan jawaban yang dikehendaki.
             d.          Seluruh pertanyaan hendaknya dapat mewakili semua bahan yang telah diberikan. Untuk itu, penyusunan soal didasarkan pada pola dasar, yang memuat ruang lingkup materi yang ingin diketahui (kisi-kisi)
7.    Memberikan skor tes esai dapat dikatakan mudah dan dapat dikatakan sukar. Dikatakan mudah, karena setiap guru pasti merasa bisa menilai jawaban yang diberikan oleh para siswanya termasuk penggunaan tes esai. Dikatakan sukar, karena banyak faktor selalu muncul dalam pengambilan keputusan penilaian siswa. Faktor-faktor tersebut di antaranya subjektivitas, pertimbangan, dan pengaruh interaksi antara guru dan para siswa di tempat pembelajaran.
B.  Implikasi
Hasil makalah ini yang berjudul “Tes Esaidapat membantu pembaca mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan tes esai, sehingga dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran nantinya yang menggunakan tes esai, pendidik sedapat mungkin telah mampu menyusun bentuk soal tes esai yang baik dan benar.





DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik, Prosedur. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009.
Arikunto, Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Edisi II. Cet. V; Jakarta: Bumi Aksara, 2016.
Fadli, Rahmat. “Lebih Mengenal Tes Subjektif (Tes Uraian)”. Makalah. http://fadlir26. blogspot.com/2017/05/lebih-mengenal-tes-subjektif-tes-uraian.html?m1. (08 April 2019).
Nurgiyantoro, Burhan. Penilaian Pembelajaran Bahasa: Berbasis Kompetensi. Edisi I. Cet. I; Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta, 2010.
Rosita, Maria Ni Made Ilia Yudi. dan Viviana Murni, “Menyusun Tes Essay”. Makalah. http:// vivianamurni.blogspot.com/2017/05/menyusun-tes-essay.html?m=1. (08 April 2019).
Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Cet. XIII; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009.
Sudjono, Anas. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996.
Sukardi. Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya. Edisi I. Cet. II; Jakarta: Bumi Aksara, 2009.
Sukardi. Evaluasi Program Pendidikan dan Kepelatihan. Cet. II; Jakarta: Bumi Aksara, 2015.
Yusuf, A. Muri. Asesmen dan Evaluasi Pendidikan: Pilar Penyedia Informasi dan Kegiatan Pengembangan Mutu Pendidikan. Edisi I. Cet. II; Jakarta: Kencana, 2017.



[1]Maria Ni Made Ilia Yudi Rosita dan Viviana Murni, “Menyusun Tes Essay”, Makalah. http:// vivianamurni.blogspot.com/2017/05/menyusun-tes-essay.html?m=1. (08 April 2019).
[2]Rahmat Fadli, “Lebih Mengenal Tes Subjektif (Tes Uraian)”, Makalah. http://fadlir26. blogspot.com/2017/05/lebih-mengenal-tes-subjektif-tes-uraian.html?m1. (08 April 2019)
[3]Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Cet. XIII; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), h. 35.
[4]Burhan Nurgiyantoro, Penilaian Pembelajaran Bahasa: Berbasis Kompetensi, Edisi I (Cet. I; Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta, 2010), h. 105.
[5]Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya, Edisi I (Cet. II; Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 94.
[6]Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), h. 101.
[7]Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Edisi II (Cet. V; Jakarta: Bumi Aksara, 2016), h. 177.
[8]A. Muri Yusuf, Asesmen dan Evaluasi Pendidikan: Pilar Penyedia Informasi dan Kegiatan Pengembangan Mutu Pendidikan, Edisi I (Cet. II; Jakarta: Kencana, 2017), h. 96.
[9]Sukardi, Evaluasi Program Pendidikan dan Kepelatihan (Cet. II; Jakarta: Bumi Aksara, 2015), h. 105.
[10]Sukardi, Evaluasi Program Pendidikan dan Kepelatihan, h. 105.
[11]Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, h. 177.
[12]Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya, h. 95.
[13]A. Muri Yusuf, Asesmen dan Evaluasi Pendidikan: Pilar Penyedia Informasi dan Kegiatan Pengembangan Mutu Pendidikan, h. 207-208.
[14]Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, h. 100.
[15]A. Muri Yusuf, Asesmen dan Evaluasi Pendidikan: Pilar Penyedia Informasi dan Kegiatan Pengembangan Mutu Pendidikan, h. 208.
[16]Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik, Prosedur (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), h. 125.
[17]Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya, h. 94.
[18]Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya, h. 95.
[19]Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya, h. 101.
[20]Sukardi, Evaluasi Program Pendidikan dan Kepelatihan, h. 100-107.
[21]Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, h. 178.
[22]Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya, h. 101.
[23]Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, h. 178.
[24]Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, h. 37.
[25]Burhan Nurgiyantoro, Penilaian Pembelajaran Bahasa: Berbasis Kompetensi, h. 120.
[26]Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya, h. 94.
[27]Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, h. 178.
[28]Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, h. 39.
[29]Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, h. 39.
[30]Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, h. 40.
[31]Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, h. 40,
[32]Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, h. 40.
[33]Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya, h. 102-103.
[34]A. Muri Yusuf, Asesmen dan Evaluasi Pendidikan: Pilar Penyedia Informasi dan Kegiatan Pengembangan Mutu Pendidikan, h. 210.
[35]Sukardi, Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya, h. 101-102.
[36]Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik, Prosedur, h. 128.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hadits tentang Larangan Korupsi dan Kolusi

  HADITS TARBAWI HADIS LARANGAN KORUPSI DAN KOLUSI Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hadits Tarbawi yang dibimbing oleh Bapak Dr. La Ode Ismail Ahmad, M.Th.I OLEH: KELOMPOK 8 Nur Annisa                              NIM: 20100116066 Sitti Fatimah S                        NIM: 20100116062 Yuliasti                                    NIM: 20100116052 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR TAHUN AKADEMIK 2016/1017 ...

Kalimat dalam Bahasa Indonesia dan Pembagiannya

BAHASA INDONESIA KALIMAT DAN PEMBAGIANNYA OLEH: YULIASTI NIM: 20100116052 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR TAHUN AKADEMIK 2016/1017   KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah yang masih memberikan kesehatan dan kesempatannya kepada kita semua, terutama kepada penulis. Sehingga penulis dapat menyelesaikan masalah ini. Berikut ini, penulis mempersembahkan sebuah makalah yang berjudul   “Kalimat Dalam Bahasa Indonesia”, penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca semua, terutama bagi penulis sendiri. Kepada pembaca yang budiman, jika terdapat kekurangan atau kekeliruan dalam makalah ini, penulis mohon maaf, karena penulis sendiri dalam tahap belajar. Dengan demikian, tak lupa penulis ucapkan terima kasih, kepada para pembaca. Semoga Allah memberkahi makalah ini sehingga benar-benar bermanfaa...

Mubtada dan Khabarnya

MUBTADA DAN KHABAR (JUMLAH ISMIYYAH DAN JUMLAH FI’LIYYAH) Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Arab Semester 3 Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar OLEH KELOMPOK 03 : SYAIKHAH FAKHRUNNISA NIM:201001160 50 MIFTAHUL JANNAH NIM:201001160 51 YULIASTI NIM:201001160 52 JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR 2017 MUBTADA A.     Pengertian Mubtada اَلْمُبْتَدَاُهُوَاَلاِسْمُ اَلْمَرْفُوْغُ اَلْعَأرِى عَنِ اَلْعَوَامِلِ اَلْلَفْظِيَّةِ وَالْخَبَرُهُوَالْاِسْمُ الْمَرْفُوْعُ الْمُسْنَدُاِلَيْهِ نَحْوُقَوْلِكَ زَيْدٌقَاءِمٌ وَالزَّيْدَانِ قَاءِمٌ وَالزَّيْدَانِ قَاءِمَانِ وَالزَّيْدُوْنَ قَاءِمُوْنَ Mubtada ada lah isim marfu' yang bebas dari amil lafazh, sedangkan khabar ialah isim marfu' yang di-musnad-kan kepada mubtada, contohnya seperti perkataan:   ...