Langsung ke konten utama

Mengembangkan Kreativitas Siswa


MENGEMBANGKAN KREATIVITAS SISWA

Description: Hasil gambar untuk GAMBAR LOGO TERBARU UIN MAKASSAR

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Bimbingan Dan Konseling Semester 5 Jurusan Pendidikan Agama Islam
Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan
UIN Alauddin Makassar
OLEH:
Kelompok 4

LA ODE ANDI MUHAMMAD M.  NIM: 20100116092
MUH. KHAERUL AMRI                 NIM: 20100116077
RISALDI                                            NIM: 20100116060
ASRINA                                             NIM: 20100116048
YULIASTI                                         NIM: 20100116052
           

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2018/2019
I. PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Kreativitas merupakan hal yang sangat penting, karena kreativitas merupakan suatu kemampuan yang sangat berarti dalam proses kehidupan manusia. Istilah kreativitas atau daya cipta sering digunakan di lingkungan sekolah, perusahaan, ataupun lingkungan lainnya. Pengembangan kreativitas ini diperlukan untuk menghadapi arus era globalisasi. Kreativitas biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk mencipta suatu produk baru. Ciptaan itu tidak perlu seluruh produknya harus baru, mungkin saja gabungannya atau kombinasinya, sedangkan unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya.
Kreativitas dapat pula dilihat sebagai suatu proses dan mungkin inilah yang lebih penting untuk dilihat terutama dalam situasi pendidikan, kreativitas sebagai suatu proses dari adanya kesenangan akan keterlibatan se-seorang terhadap kegiatan kreatif. Dalam situasi pendidikan, proses belajar mengajar me-rupakan salah satu dari bentuk kegiatannya. Melalui proses belajar mengajar, kreativitas siswa dapat dipupuk dan dikembangkan. Hal ini dapat diwujudkan dalam bentuk kegemaran untuk terlibat dalam mencari pengetahuan seperti, membaca buku di perpustakaan, kegiatan di laboratorium, dan lain-lain). keberanian da-lam mengemukakan ide maupun pendapat (seperti dalam diskusi dan seminar), aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, dan lain-lain.
Kreativitas merupakan salah satu upaya pendidik untuk meningkatkan kemampuan siswa, yaitu meningkatkan prestasi belajar. Tinggi rendahnya prestasi belajar yang dicapai oleh setiap siswa akan sangat dipengaruhi oleh kualitas pribadi dari masing-masing siswa. Salah satu faktor yang berperan besar terhadap belajar siswa ialah faktor kreativitas, dalam dunia pendidikan kemampuan berpikir kreatif atau kreativitas ini perlu dikembangkan dengan cara meningkatkan kesenangan siswa untuk bersibuk diri secara kreatif, siswa diharapkan dapat meningkatkan wawasan ilmu pengetahuannya sehingga siswa mampu memecahkan tugas-tugas belajarnya secara efektif.
B.  Rumusan Masalah
1.    Apa definisi kreativitas?
2.    Bagaimana ciri-ciri kreativitas?
3.    Bagaimana tahap-tahap pengembangan kreativitas?
4.    Bagaimana hubungan kreativitas dengan belajar siswa?

II
PEMBAHASAN
A.  Definisi Kreativitas
Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada. Kreativitas biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk mencipta suatu produk baru. Ciptaan itu tidak seluruhnya harus baru mungkin saja gabungannya atau kombinasinya sedangkan unsur-unsur lain sudah ada sebelumnya. Yang dimaksud dengan data, informasi dan unsur-unsur yang ada dalam arti sudah ada sebelumnya, atau sudah dikenal sebelumnya adalah semua pengalaman yang diperoleh seseorang selama hidupnya. Disini termasuk segala pengetahuan yang pernah diperolehhnya baik selama di bangku sekolah maupun yang dipelajari dalam keluarga dan dalam masyarakat.[1]
Secara konvensional kreativitas menurut Baron, didefinisikan dengan pendekatan tiga P yaitu pendekatan: pribadi yang kreatif, proses kreatif, dan produk kreatif. Kemudian timbul pandangan baru yang menyatakan bahwa pendekatan press, juga penting untuk memahami kreativitas. Keempat pendekatan tersebut saling berkaitan secara jelas. Produk kreatif merupakan hasil proses kreatif yang muncul dari seseorang yang kreatif yang didukung oleh lingkungan yang kondusif (press). Berikut ini penjelasan masing-masing pendekatan kreativitas.[2]
1.    Pendekatan Pribadi Kreatif
Menurut Hulbeck tindakan pribadi kreatif didefinisikan sebagai berikut. “Creative action is an imposing of one’s own whole personality on the environment in a unique and characteristic way”. Tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya.[3]
Sternberg dan Lubart menyatakan bahwa ada enam elemen yang menyatu membentuk kreativitas: inteligensi, pengetahuan, gaya berpikir, kepribadian, motivasi, dan lingkungan. Inteligensi termasuk salah satu kekuatan yang bergabung memengaruhi perilaku dan pikiran kreatif. Berdasar teori triachic human intelligence Sternberg, tiga aspek inteligensi yang memengaruhi kreativitas, adalah sintesis, analisis, dan kemampuan praktis.[4]
Kemampuan sintesis adalah kemampuan membangkitkan ide yang baru, berkualitaas tinggi dan sesuai dengan tugas. Karena kreativitas dipandang sebagai sesuatu yang baru, berkualitas tinggi dan sesuai dengan tugas, maka kreativitas bervariasi berdasar pribadi, tugas dan lingkungannya. Elemen kunci utama kemampuan sintesis adalah yang disebut Sternberg metacomponent atau metakognisi. Metakomponen adalah salah satu proses pembuatan definisi baru. Dengan kata lain, pribadi yang kreatif melihat masalah yang dilihat orang lain dengna cara yang sama sekali berbeda. Ini berarti ide tersebut “menentang orang banyak” atau dengan istilah umum “melawan arus”.
Peran analisis inteligensi dalam penerapan kreativitas berkaitan dengan kemampuan mengevaluasi ide-idenya sendiri, dan kemudian memutuskan ide yang mana bermakna untuk diteruskan. Bila ide tertentu bermakna untuk diteruskan, kemampuan analisis dapat digunakan lebih lanjut untuk mengevaluasi kekuatan dan kelemahan ide tersebut, sehingga dapat ditemukan cara menyempurnakan ide tersebut. Pribadi yang kemampuan sintesisnya tinggi tetapi kemampuan analisisnya rendah, mungkin membutuhkan orang laIn untuk berperan sebagai evaluator.
Kemampuan praktis, yaitu kemampuan menerapkan keterampilan intelektual dalam konteks kehidupan sehari-hari. Karena ide-ide kreatif cenderung sering ditolak, maka penting sekali orang yang ingin kreativitasnya berdampak, harus menemukan cara mengomunikasikan ide secara efektif, dan belajar memengaruhi orang lain mengenai keunggulan ide-idenya.
2.    Pendekatan Proses Kreatif
Menurut Torrance kreativitas didefinisikan sebagai proses yang menyerupai langkah-langkah dalam metode ilmiah, yaitu:
a.    Memahami adanya kesulitan, masalah kesenjangan informasi, elemen yang hilang, sesuatu yang menyimpang (askew).
b.    Memperkirakan dan merumuskan hipotesis tentang perbedaan-perbedaan.
c.    Menilai dan mengetes perkiraan (guesses) dan hipotesis.
d.   Memperbaiki dan mengetes kembali.
e.    Mengomunikasikan hasil.[5]
3.    Pendekatan Produk Kreatif
Definisi yang tefokus pada produk kreatif menekankan unsur orisinalitas, kebaruan, dan kebermaknaan. Definisi yang menekankan kebaruan atau hal-hal yang baru seperti dikemukakan Baron sebagai berikut: “Creativity may be defined, quite simply, as the ability to bring something new into existence”. Kreativitas dapat didefinisikan secara sangat sederhana sebagai kemampuan menciptakan sesuatu yang baru. Menurut Mason yang menekankan pada orisinalitas, kreativitas dalam pemahaman yang paling baik mempersyaratkan dua hal, yaitu suatu konsep atau ide yang orisinil dan suatu keuntungan bagi seseorang. Sedangkan pendapat yang menekankan pada kebermaknaan dikemukakan oleh Haefele yaitu, kreativitas dapat didefnisikan sebagai kemampuan membuat kombinasi baru yang bermakna sosial.[6]
4.    Pendekatan Pendorong Kreatif (Press)
Pendekatan ini terfokus pada dorongan kreatif, sosial dan lingkungan psikologi. Ini berarti terdapat dua macam dorongan yaitu internal (dari diri sendiri) maupun dorongan eksternal (dari lingkungan sosial dan psikologi).
Ng Aik Kwang menyebutkan tentang pendekatan selain pendekatan 4P, yaitu pendekatan kognisi, kepribadian, psikologi sosial, dan sistem.
a.    Pendekatan Kognisi
Seseorang dikatakan kreatif apabila mampu melakukan pemecahan masalah secara praktis dan inovatif. Hal ini dikarenakan adanya kebutuhan. Ini menuntut adanya beberapa hal yang jarang ditemukan dalam pemecahan masalah biasa. Di antaranya suatu masalah yang sulit menentukan sifat dari masalahnya, sehingga sulit menentukan apa yang harus dilakukan, sulit menentukan informasi yang harus dikumpulkan, dan cara-cara yang tidak konvensional.
b.    Pendekatan Kepribadian yang Kreatif
1)   Seorang kreatif memperlihatkan keinginan yang asli (genuine) mengenai apa yang ingin dilkukan.
2)   Keinginan tersebut menyebabkan seorang kreatif bersedia menambah waktu da energinya untuk mencapai tujuannya.
3)   Memiliki toleransi terhadap ambiguitas yang tinggi.
4)   Tertarik mendalami masalah-masalah yang kompleks dan berminat pada bidang-bidang yang luas.
5)   Sangat percaya pada dirinya sendiri tentang apa yang dilakukan dan bertindak bebas dan otonom.
c.    Pendekatan Lingkungnan yang Kreatif
Amabile menyatakan suatu produk atau respons disebut kreatif apabila beberapa peneliti yang sesuai secara bebas menyetujui bahwa produk itu dikatakan kreatif. Peneliti yang sesuai adalah para ahli dalam ranah dari produk tersebut.[7]
Hasil penelitian Amabile dan teman-teman menyimpulkan motivasi intrinsik sangat berperan dalam menghasilkan produk kreatif. Menurut Amabile terdapat tiga komponen dalam motivasi intrinsik, yaitu:
a)    Keterampilan dalam ranah yang relevan (domain-relevant skill) yang mengacu pada pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang berkaitan dengan ranah khusus di mana seorang kreatif tertarik.
b)   Keterampilan yang relevan dengan kreativitas (creativity-relevant skill) yang mengacu pada kemampuan kognisi, seperti kemampuan berpikir divergen, ciri-ciri kepribadian seperti keterbukaan terhadap pengalaman, kecondongan mengambil resiko, toleransi yang besar terhadap kebermaknaan ganda (ambiguitas).
c)    Motivasi intrinsik yang mengacu pada keinginan untuk melakukan suatu tugas yang masih dipertanyakan.[8]
d.   Pendekatan Sistem
Kreativitas tidak akan terjadi dalam keadaan sosial yang hampa (vacum). Sebaliknya justru harus ada hubungan yang erat antara orang yang kreatif dengan dunia sosilanya, tempat membentuk aktivitas kreatifnya.
Aspek kunci terhadap kreativitas sehingga menjadi lebih menyeluruh adalah sistem kreativitas. Pendekatan lain lebih cenderung untuk memahami apa itu kreativitas? Pendekatan sistem cenderung membahas di mana kreativitas?
Individual (Person)
 
Menurut Csikszenmihalyi kreativitas itu ditemukan dalam sistem yang terdiri dari 3 bagian yang saling berkaitan, yaitu individu (person), ranah (domain)n dan bidang (field), seperti gambar berikut:[9]

Flowchart: Extract: Di mana Kreativitas
Ranah (Domain)
 
Bidang (Field)
 
 



Gambar Perspektif Sistem Kreativitas
Keterangan:
·      Ranah: Sejumlah prosedur dan peraturan simbolis, prosedur dalam arsitektur dan matematika.
·      Bidang: Seluruh individu yang bertindak sebagai penjaga gawang yang tugasnya menentukan ide baruatau produk baru masuk dalam ranah atau tidak.
·      Individu: orang yang tertarik menyusun kembali elemen-elemen yang konvensional ke dalam ranah yang sedang dikerjakan dan diyakini sangat penting dalam perubahan secara kreatif dalam ranah tersebut.
Kreativitas dan Teori Belahan Otak
Perkembangan kreatif peserta didik sangat erat kaitannya dengan perkembangan kognitifnya. Karena sesungguhnya kreativitas merupakan perwujudan dari pekerjaan otak. Para pakar kreativitas, misalnya Clark dan Gowan melalui Teori Belahan Otak (Hemisphere Theory) mengatakan bahwa sesungguhnya otak manusia itu menurut fungsinya terbagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kiri dan belahan otak kanan. Belahan otak kiri mengarah kepada cara berpikir konvergen (convergent thinking), sedangkan otak belahan kanan mengarah keapada cara berpikir menyebar (divergent thinking).[10]
Berkenaan dengan teori belahan otak beserta funngsinya, Clark mengemukakan sejumlah fungsi otak sesuai dengna belahannya. Menurutnya, ketika otak kanan sedang bekerja maka otak kiri cenderung lebih tenang, demikian pula sebaliknya. Otak kanan berfungsi dalam hal persamaan, khayalan, kreativitas, bentuk atau ruang, emosi, musik, dan warna. Jadi, otak kanan berfungsi dalam perkembangan kecerdasan emosional (emotional quotient, EQ). sedangkan otak kiri berfungsi dalam hal perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa, hitungan, dan logika. Jadi otak kiri berfungsi sebagai pengendali kecerdasan intelektual (intelligence/intellectual quotient, IQ).[11]
Daya ingat otak kanan bersifat jangka panjang (long term memory), sedangkan daya ingat otak kiri bersifat jangka pendek (short term memory). Bila terjadi kerusakan pada otak kanan, makafungsi otak yang terganggu adalah kemampuan visual dan emosi. Sedangkan apabila terjadi kerusakan pada otak kiri, maka terjadi gangguan dalam hal fungsi berbicara, berbahasa, dan matematika. Meski terdapat perbedaan fungsi pada kedua belahan otak, setiap  individu ataupun peserta didik mempunyai kecenderungan untuk menggunakan salah satu belahan yang dominan dalam menyelesaikan masalah hidup dan pekerjaan. Setiap belahan saling mendominasi dalam aktivitas, namun baik otak kiri maupun otak kanan terlibat pada hampir semua proses berpikir manusia. Berikut ini perbedaan ringkas antara otak kiri dan otak kanan dalam berpikir.[12]
Otak kiri
Otak kanan
Logis
Acak
Berurut
Intuitif
Rasional
Holistik
Analitik
Sintetis
Objektif
Subyektif
Melihat bagian
Melihat keutuhan
Perkembangan Kreativitas
Perkembangan kreativitas menjadi bagian integral dari proses perkembangan kognitif. Ketika memasuki usia dini, perkembangan kognitif anak memperlihatkan kecenderungan suasana intuitif. Semua perbuatan rasionalnya tidak banyak memperoleh dukungan dari pemikiran, melainkan sangat kuat dipengaruhi oleh perasaan, kecenderungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh dari orang dewasa, dan lingkungan di sekitarnya.
Ketika memasuki usia dasar anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas konkret, disertai dengan berkembangnya rasa ingin tahu yang cukup kuat. Proses interaksi anak dengan lingkungan, termasuk dengan orang tua, sudah semakin berkembang dengan baik. Kreativitas anak pun makin berkembang pada masa ini. Sejalan dengan itu sifat egosentrisnya semakin berkurang. Menurt Piaget dan beberapa pakar lainnya, faktor-faktor memungkinkan semakin berkembangnya kreativitas  itu adalah sebagai berikut:
·      Kemampuan berimajinasi tentang sesuatu, meskipun masih memerlukan bantuan objek-objek konkret.
·      Kemampuan berpikir logis dalam bentuk sederhana.
·      Kemampuan menampilkan operasi-operasi mental.
·      Berkembangnya kemampuan memelihara identitas diri.
·      Meluasnya konsep tentang ruang sudah semakin meluas.
·      Kesadaran akan adanya masa lalu, masa kini, dsan masa yang akan datang.[13]
Ketika memasuki usia sekolah menengah pertama, interaksi anak dengan lingkungan makin meluas, demikian juga pergaulan dengan teman sebaya dan orang dewasa. Perkembangan kreativitas anak pada tahap ini sangat potensial dan relatif mudah diaktualkan. Beberapa faktor yang mendukung berkembangnya potensi kreativitas yang dimaksud disajikan berikut ini.
·      Kemampuan mengkombinasikan tindakan secara proporsional berdasarkan pemikiran logis.
·      Kemampuan melakukan kombinasi objek-objek secara proporsional berdasrkan pemikiran logis.
·      Pemahaman relatif tentang ruang dan waktu.
·      Kemampuan memisahkan dan mengendalikan variabel-variabel dalam menghadapi masalah yang kompleks.
·      Kemampuan melakukan abstraksi reflektif dan berpikir hipotesis.
·      Kemampuan menunjukkan “keidealan” diri pribadi.
·      Kemampuan menguasai bahan abstrak.
·      Kemampuan merfleksi masa depan.
·      Kemampuan membedakan aneka fenomena dan objek.[14]
B.  Ciri-ciri Kreativitas
Ciri-ciri utama kreativitas dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
a.    Ciri Bakat (Aptitude Trait), ciri-ciri ini dioperasionalkan dalam tes berpikir divergen, yaitu meliputi:
1)   Kelancaran (fluency) adalah kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan dengan cepat (penekanan pada kuantitas).
2)   Kelenturan (flexibility) adalah kemampuan untuk memberikan gagasan yang beragam, bebas dari perserevasi.
3)   Orisinalitas (originality) adalah kemampuan untuk memberikan gagasan yang secara statistik unik dan langka untuk populasi tertentu dan kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru atau membuat kombinasi-kombinasi baru antara macam-macam unsur atau bagian. Makin banyak unsur-unsur yang dapat digabung menjadi satu gagasan atau produk, makin orisinal pemikiran individu.
4)   Kemampuan mengelaborasi adalah kemampuan untuk mengembangkan, merinci dan memperkaya suatu gagasan.
b.    Ciri-ciri Non Aptitude Trait
1)       Kepercayaan diri
2)       Keuletan dan apresiasi estetik
3)       Rasa ingin tahu
4)       Tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai tantangan
5)       Berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau untuk dikritik orang lain
6)       Tidak mudah putus asa
7)       Menghargai keindahan
8)       Mempunyai rasa humor
9)       Ingin mencari pengalaman-pengalaman baru
10)   Dapat menghargai diri sendiri maupun orang lain. [15]
Ciri-ciri kreativitas yang dikemukakan oleh Utami Munandar yaitu antara lain:
·      Senang mencari pengalaman baru.
·      Memiliki keasyikan dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit.
·      Memiliki inisiaif.
·      Memiliki ketekunan yang tinggi.
·      Cenderung kritis terhadap orang lain.
·      Berani menyatakan pendapat dengan keyakinannya.
·      Selalu ingin tahu.
·      Peka atau perasa.
·      Enerjik dan ulet.
·      Menyukai tugas-tugas yang majemuk.
·      Percaya kepada diri sendiri.
·      Mempunyai rasa humor.
·      Memiliki rasa keindahan.
·      Berwawasan masa depan dan penuh imajinasi.[16]
Banyak kesamaan dengan pendapat Utami Munandar, Clark mengemukakan karakteristik kreativitas seperti berikut ini.
·      Memiliki kedisiplinan diri yang tinggi.
·      Memiliki kemandirian yang tinggi.
·      Cenderung sering menentang otoritas.
·      Memiliki rasa humor.
·      Mampu menentang tekanan kelompok
·      Lebih mampu menyesuaikan diri.
·      Senang berpetualang.
·      Toleran terhadap ambiguitas.
·      Kuang toleran terhadap hal-hal yang membosankan.
·      Menyukai hal-hal yang kompleks.
·      Memiliki kemampuan berpikir divergen yang tinggi.
·      Memiliki memori dan atensi yang baik.
·      Memiliki wawasan yang luas.
·      Mampu berpikir periodik.
·      Memerlukan situasi yang mendukung.
·      Sensetif terhadap lingkungan.
·      Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
·      Memiliki nilai estetik yang tinggi.
·      Lebih bebas dalam mengembangkan integrasi peran seks.[17]
Piers dan Torrance berpendapat bahwa karakteristik kreativitas seperti berikut ini.
·      Memiliki dorongan (drive) atau kemauan yang tinggi.
·      Memiliki keterlibatan yang tinggi.
·      Memiliki ketekunan yang tinggi.
·      Cenderung tidak merasa puas terhadap kemapanan.
·      Memiliki kemandirian yang tinggi.
·      Bebas dalam mengambil keputusan.
·      Menerima diri sendiri.
·      Senang humor.
·      Memiliki intuisi yang tinggi.
·      Cenderung tertarik kepada hal-hal yang kompeks.
·      Toleran terhadap ambiguitas.
·      Bersifat sensitif.
·      Memiliki rasa ingin tahu yang besar.
·      Tekun dan tidak mudah bosan.
·      Percaya diri dan mandiri.
·      Merasa tertantang oleh kemajuan atau kompleksitas.
·      Berani mengambil resiko.
·      Berpikir divergen.[18]
Berikut ini pula disebutkan ciri-ciri kepribadian kreatif menurut Csikzentmihalyi, yaitu antara lain:
·      Pribadi kratif mempunyai kekuatan energy fisik yang memungkinkan mereka bekerja berjam-jam dengan konsentrasi penuh, tetapi mereka juga bisa tenang dan rileks, bergantung pada situasinya.
·      Pribadi kreatif cerdas dan cerdik, tetapi pada saat yang sama mereka juga naïf. Mereka mampu berpikir konvergen dan divergen.
·      Ciri paradoksal ketiga berkaitan dengan kombinasi antara sikap bermain dan disiplin.
·      Pribadi kreatif dapat berselang-seling antara imajinasi dan fantasi, namun tetap bertumpu pada realitas.
·      Pribadi kreatif menunjukkan kecenderungan baik introversi maupun ekstroversi.
·      Orang kreatif dapat bersikap rendah diri dan bangga akan karyanya pada saat yang sama.
·      Pribadi kreatif menunjukkan androgini psikologis, yaitu mereka dapat melepaskan diri dari stereotip gender (maskulin-femenim).
·      Orang kreatif cenderung mandiri bahkan suka menentang tetapi di lain pihak mereka bisa tetap tradisional dan konservatif.
·      Kebanyakan orang kreatif sangat bersemangat (passionate) bila menyangkut karya mereka, tetapi juga sangat objektif dalam penilaian karyanya.
·      Keunggulan sering mengundang tantangan dari lingkungan dan pribadi kreatif bisa merasa terisolir dan seperti tidak dipahami.[19]
C.  Tahap-tahap Pengembangan Kreativitas
Wallas mengemukakan empat tahapan proses kreatif, yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Selain empat tahapan tersebut, Sudarwan Danim menambahkan dua tahapan, yaitu penyadaran dan tindakan sebagai bagian dari pengembangan krativitas.
1.    Penyadaran (conciousness) akan imajinasi. Peserta didik yang kratif memiliki banyak imajinasi. Seringkali imajinasi berlalu begitu saja, tanpa adanya kesadaran atasnya. Oleh sebab itu, ide-ide kreatif yang terlontar sebagai imajinasi perlu diinternalisasi sedemikian rupa, laksana keinginan mentranformasikan mimpi menjadi realitas. Keinginan untuk mewujudkan realitas inilah yang disebut sebagai penyadaran dan kesadaran untuk bertindak kreatif.
2.    Persiapan (preparation), di mana peserta didik berusaha mengumpulkan informasi atau data untuk memecahkan masalah yang dihadapai sehingga menjadi tindakan kreatif. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, peserta didik berusaha menjajaki berbagai kemungkinan jalan yang dapat ditempuh untuk memecahkan masalah yang bersifat kreatif tersebut.
3.    Inkubasi (incubation), di mana peserta didik seolah-olah melepaskan diri unutuk sementara waktu dari masalah yang dihadapinya, dalam pengertian tidak memikirkannya secara sadar melainkan “menghadapinya” dalam alam prasadar.
4.    Iluminasi (illumination), di mana peserta didik mulai membangun proses prikologis unutuk mempersiapkan diri bagi transformasi tindakan kreatif atas gagasan baru yang dimilikinya.
5.    Verifikasi (verivication), di mana gagasan yang telah muncul dievaluasi secara kritis dan konvergen serta menghadapkannya kepada realitas. Pemikiran divergen sangat perlu, namun harus diikuti dengan pemikiran konvergen. Di sini, pemikiran dan sikap spontan harus diikuti oleh pemikiran selektif dan sengaja. Penerimaan secara total harus diikuti oleh kritik unutuk kemudian melakukan persiapan bagi pengujian terhadap realitas.
6.    Tindakan kreatif (creative action), di mana peserta didik melakukan tindakan nyata atas ide-ide kreatif atau imajinasinya, sehingga mewujud menjadi kenyataan yang dikehendaki.[20]
D.  Hubungan Kreativitas dengan Belajar Siswa
Belajar merupakan proses interaksi antara individu dengan individu lain atau lingkungannya yang dapat merubah tingkah laku suatu individu. Perubahan tingkah laku terjadi sebagai hasil dari pengalaman atau belajar. Pengalaman dalam arti kata penghayatan peristiwa secara langsung (misalnya terlalu lama terkena sinar matahari menimbulkan kepala terasa pening) dan penghayatan peristiwa secara tidak langsung, artinya melalui suatu perantara orang lain, buku, atau sumber informasi lainnya. Perubahan tingkah laku yang timbul bukan sebagai hasil dari pengalaman tidak termasuk dalam batasan belajar.
Selain hal itu, beberapa hal lain yang terkait perubahan tingkah laku adalah memecahkan masalah (problem solving), bagi siswa aktif dan guru harus mengarahkan, serta hasil belajar diukur dengan berbagai cara tidak hanya melalui tes saja namun dengan cara yang berbeda-beda dan dapat menghasilkan prestasi yang unggul.[21]
Proses belajar pada dasarnya merupakan hal terpenting dalam proses pendidikan secara keseluruhan dan merupakan tempat bagi pengembangan aktivitas dan kreativitas. Dalam proses belajar tersebut akan terjadi perubahan tingkah laku yang diarahkan untuk tercapainya tujuan pendidikan. Proses belajar mengajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal, sehingga hasil belajar yang dicapai akan banyak tergantung pada faktor-faktor tersebut yang saling berinteraksi satu sama lain. Faktor eksternal adalah faktor di luar diri individu yang mempengaruhi proses belajar, yang dapat digolongkan ke dalam faktor sosial dan faktor non sosial.
Faktor sosial adalah faktor-faktor yang menyangkut hubungan antara manusia yang terjadi didalam berbagai situasi sosial. Termasuk kedalamnya adalah faktor keluarga, sekolah, kelompok sebaya dan masyarakat pada umumnya. Sedangkan faktor non sosial adalah faktor-faktor yang bukan sosial, yang termasuk kedalamnya lingkungan alam dan atau fisik, misalnya kondisi rumah, gedung sekolah, fasilitas belajar, penerangan dan sebagainya.
Adapun faktor internal atau faktor dalam diri individu adalah faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu sebagai seorang siswa. Faktor-faktor internal ini adalah faktor fisiologis yaitu setiap ciri-ciri jasmaniah individu dan faktor psikologis yaitu setiap ciri-ciri psikologis individu. Faktor psikologis ini mencakup faktor intelektual baik potensial maupun aktual dan faktor nonintelektual yaitu berupa komponen kepribadian seperti sikap, kebiasan, minat, kebutuhan, motivasi, penyesuaian akademis, dan komponen kepribadian lainnya.[22]
Dalam proses belajar, pada umumnya individu akan selalu berusaha untuk meraih prestasi yang optimal dan tentunya harus diraih melalui suatu usaha yang optimal dan sarana prasarana yang memadai. Prestasi adalah suatu keberhasilan dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Pada hakekatnya prestasi belajar adalah hasil belajar yang merupakan perubahan yang terdapat dalam individu yang dimanifestasikan dalam pola tingkah laku.
Winkel mengatakan: “Prestasi adalah bukti keberhasilan yang telah dicapai. Belajar adalah suatu proses mental yang mengarah kepada penguasaan pengetahuan, kecakapan/skill, kebiasaan atau sikap yang semuanya diperoleh, disimpan dan dilaksanakan sehingga menimbulkan tingkah laku yang progresif dan adaptif. Secara singkat belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku yang merupakan hasil dari pengalaman. [23]
Menurut S. Nasution prestasi belajar adalah: “Kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni: kognitif, afektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut.[24]
Prestasi belajar atau nilai hasil belajar tinggi yang selalu diinginkan oleh siswa pada umumnya dapat diraih melalui kreativitas belajar. Menurut hasil penelitian Sabrin hasil belajar siswa sangat berkaitan erat dengan kreativitas yang dimiliki oleh seorang siswa. Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam jangka waktu tertentu. Siswa yang aktif dapat dikatakan kreatif jika siswa dapat memberikan bermacam-macam alternatif jawaban.[25]
Tujuan pendidikan itu sendiri pada umumnya ialah menyediakan lingkungan yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal, sehingga ia dapat mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya, sesuai dengan kebutuhan pribadinya dan kebutuhan masyarakat. Untuk mengoptimalkan pengembangan bakat dan kemampuan tersebut dibutuhkan pribadi yang kreatif.
Kreatif secara umum dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk mengembangkan kemampuan diri atau keterampilan berfikir. Sifat kreatif selain merupakan potensi diri juga merupakan tuntutan, karena zaman yang semakin kompleks ini, yang selalu membutuhkan peran serta setiap orang dalam bidangnya masing-masing sesuai dengan tuntutan zaman.[26]
Guilford berpendapat kreativitas atau berpikir kreatif sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah, merupakan bentuk pemikiran yang sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan. Di sekolah yang terutama dilatih adalah penerimaan pengetahuan, ingatan, dan penalaran. Bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat bagi diri pribadi maupun bagi lingkungan, tetapi juga memberikan kepuasan kepada individu. Kreatifitaslah yang memungkinkan manusia dapat meningkatkan kualitas hidupnya.[27]
Rogers menyatakan bahwa kreativitas adalah suatu potensi yang dimiliki oleh manusia sejak lahir. Adapun bagaimana potensi itu kelak akan ditampilkan keluar ada-lah tergantung dari suatu kondisi yang dapat memotivasi individu tersebut untuk bertindak kretif. Kreativitas menurut Rogers juga merupakan kemampuan untuk membentuk hubungan yang baru dengan lingkungan.[28]
Potensi kreativitas yang dimiliki setiap siswa dapat mengalami hambatan di dalam pengembangannya dengan adanya beberapa kondisi yang kurang dapat memotivasi seseorang untuk bertindak kreatif. Kondisi-kondisi tersebut menurut Rogers bisa bersifat internal maupun eksternal.
Kondisi internal pertama adalah suatu kondisi yang dikaitkan dengan psychological defensiveness. Bila seorang individu melindungi diri dari pengalamannya atau menolak secara sadar keterlibatannya, maka individu tersebut cenderung menghindar, sehingga dia menjadi apatis. Tetapi pada orang-orang yang terbuka terhadap pengalamannya yaitu bebas dalam menentukan setiap pengalaman yang diterimanya maka pendapat dan pengamatannya akan membentuk tindakan yang lebih kreatif. Artinya individu tersebut memiliki tingkat frigiditas yang rendah, memiliki toleransi terhadap hal-hal yang kurang jelas serta mampu menyadari ketidakjelasan tersebut.
Kondisi internal kedua adalah kondisi yang berhubungan dengan internal locus of evaluation. Kondisi ini menuntut adanya kemampuan mengevaluasi secara internal dalam diri individu yaitu kemampuan menerima hasil kreativitas seseorang tidak ditetukan oleh pujian atau kritikan dari orang lain tetapi oleh diri sendiri. Kondisi internal ketiga adalah adanya keterbukaan dan keluwesan individu secara spontan dalam bermain dengan ide-ide, warna, bentuk atau hubungan yang ada dalam lingkungannya sehingga meghasilkan sesuatu yang baru. Adapun kondisi eksternal yang mendukung kreativitas menurut Roger adalah kondisi yang mampu memupuk dan mengembangkan kondisi internal, agar terbentuk berpikir kreatif yang konstruktif pada setiap individu.[29]
Torrance dan Myers berpendapat bahwa belajar kreatif adalah menjadi peka atau sadar akan masalah, kekurangan-kekurangan, kesenjangan dalam pengetahuan, unsur-unsur yang tak ada, ketidakharmonisan dan sebagainya, mengumpulkan informasi yang ada, membataskan kesukaran atau mengidentifikasikan unsur yang tidak ada, mencari jawabannya membuat hipotesis, mengubah dan mengujinya, menyempurnakan dan akhirnya mengkomunikasikannya.[30]
Torrance dan Myers selanjutnya juga melihat proses belajar kreatif sebagai: Keterlibatan dengan sesuatu yang berarti. Rasa ingin tahu dan ingin me-ngetahui dalam kekaguman, ketidaklengkapan, kekacauan, kerumitan, ketidakselarasan, ketidakteraturan dan sebagainya. Kesederhanaan dari struktur atau mendiagnosis suatu kesulitan dengan mensintesiskan informasi yang telah diketahui, membentuk kombinasi baru atau mengidentifikasikan kesenjangan.[31]
Menurut Maslow dengan berkreasi, orang dapat mengaktualisasikan dirinya, dan perwujudan atau aktualisasi diri merupakan kebutuhan pokok pada tingkat tertinggi dalam hidup manusia. Kreativitas merupakan manifestasi dari individu yang berfungsi sepenuhnya. [32]
Kreativitas dapat dikembangkan melalui proses belajar diskaveri/inkuiry (pembelajaran yang berpusat pada siswa) dan belajar bermakna, dan tidak dapat dilakukan hanya dengan kegiatan belajar yang hanya bersifat ekspositori (pembelajaran yang berpusat pada guru). Karena inti dari krativitas adalah pengembangan kemampuan berfikir divergen dan bukan berfikir konvergen. Contoh bentuk pengembangan pembelajaran tersebut ialah guru menciptakan situasi belajar mengajar yang banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah, melakukan beberapa percobaan, dan mengembangkan konsep-konsep atau gagasan siswa sendiri.[33]
Sebagai seorang siswa untuk dapat menumbuhkan kreativitas dalam belajar seharusnya terlebih dahulu harus mempersiapkan diri dalam menghadapi laju pendidikan yang menuntut siswa selalu bergerak dinamis dan kompetitif. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencapai tingkat kreativitas, yaitu
1.    Mengembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri (riset), dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
2.    Sedapat mungkin siswa dilatih memecahkan permasalahannya sendiri.
3.    Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4.    Menciptakan masyarakat dengan belajar.
5.    Menghadirkan contoh pembelajaran.
6.    Melekukan refleksi di akhir pertemuan.
7.    Melakukan penilaian yang sebenarnya.[34]
Menurut Gibbs, ada beberapa hal yang perlu dilakukan agar siswa lebih aktif dan kreatif dalam belajarnya, antara lain:
1.    Dikembangkannya rasa percaya diri pada diri siswa dan mengurangi rasa takut.
2.    Memberikan kesempatan pada seluruh siswa untuk berkomunikasi ilmiah secara bebas terarah.
3.    Melibatkan siswa dalam menentukan tujuan belajar dan evaluasinya.
4.    Memberikan pengawasan yang tidak terlalu ketat dan tidak otoriter.
5.    Melibatkan mereka secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran secara keseluruhan.[35]
Adapun menurut Widada untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran, guru dapat menggunakan pendekatan sebagai berikut.
1.    Self Esteem Approach: guru memperhatikan pengembangan self esteem (kesadaran akan harga diri) siswa.
2.    Creative approach: guru mengembangkan problem solving, brain storming, inquiry, dan role playing.
3.    Value clarification an moral development approach: mengembangkan segenap potensi siswa menuju tercapainya self actualization, termasuk dalam hal etika dan moral.
4.    Multipletalent approach: pengembangan seluruh potensi siswa untuk membangun self concept yang menunjang kesehatan mental.
5.    Inquiry approach: guru memberikan kesempatankepada siswa untuk mengungkapkan proses mental dalam menemukan konsep atau prinsip ilmiah serta meningkatkan potensi ilmiahnya.
6.    Pictorial riddle approach: mengembangkan metode untuk mengembangkan motivasi dan minat siswa dalam diskusi kelompok kecil guna membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
7.    Synetics approach: lebih memusatkan perhatian pada kompetensi siswa untuk membuka intelegensinya dan mengembangkan kreativitasnya.[36]
Dengan adanya hal-hal yang mendukung kreativitas seperti yang telah diuraikan di atas, maka akan sangat membantu guru dan siswa untuk mengembangkan kreativitas dan juga untuk mencapai tujuan pembelajaran.  Semakin tinggi kreativitas seorang siswa, makin semakin besar pula peluang untuk mencapai tujuannya dalam proses pembelajaran.

III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
1.    Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada. Kreativitas biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk mencipta suatu produk baru. Ciptaan itu tidak seluruhnya harus baru mungkin saja gabungannya atau kombinasinya sedangkan unsur-unsur lain sudah ada sebelumnya.
2.    Ciri-ciri utama kreativitas dapat dibedakan menjadi dua yaitu: Ciri Bakat Aptitude Trait dan Ciri-ciri Non Aptitude Trait.
3.    Wallas mengemukakan empat tahapan proses kreatif, yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Selain empat tahapan tersebut, Sudarwan Danim menambahkan dua tahapan, yaitu penyadaran dan tindakan sebagai bagian dari pengembangan krativitas.
4.    Kreativitas sangat berhubungan dengan belajar, baik proses hingga hasil belajar. Kreativitas dalam belajar dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

B.  Saran-saran
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna karena masih banyak terdapat kesalahan maupun materi yang dibahas belum terperinci. Oleh karena itu, kami meminta kritik dan saran dari pembaca sekalian, untuk perbaikan makalah kami di masa mendatang.

DAFTAR PUSTAKA
Danim, Sudarwan. Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Alfabeta, 2011.
Komarudin, Dindin. Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa. Psympathic IV. No.1 (2011): h. 278 – 288.
Mulyadi, Seto, dkk. Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam Psikologi. Ed. 1, Cet. 1. Jakarta: Rajawali Pers, 2016.
Haris, M. Nafiul. Hubungan Antara Kreatif Dengan Belajar. Detiknews, 02 Agustus 2011.
Maulana, Azyzah Gita, dkk. Peranan Kreativitas Dalam Belajar. Makalah Psikologi Pendidikan yang disajikan pada diskusi kelas di Universitas Negeri Padang, Padang, 2015.
Sabrin. Hubungan Antara Kreativitas Siswa Dengan Hasil Belajar Akuntansi Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Kendari. Selami IPS 34, no. 1. (2011): h. 53-64.



[1] Dindin Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic 4, no. 1, (2011), h.  280.
[2] Seto Mulyadi, dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h. 245-246.
[3] Seto Mulyadi, dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h. 246.
[4] Seto Mulyadi, dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h. 246.
[5] Seto Mulyadi, dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h. 248.
[6] Seto Mulyadi, dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h. 248-249.
[7] Seto Mulyadi, dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h. 251-252.
[8] Seto Mulyadi, dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h.252-253.
[9] Seto Mulyadi, dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h. 252.
[10] Sudarwan Danim, Perkembangan Peserta Didik, Bandung: Alfabeta, 2011, h. 133.
[11] Sudarwan Danim, Perkembangan Peserta Didik, Bandung: Alfabeta, 2011, h. 133.
[12] Sudarwan Danim, Perkembangan Peserta Didik, Bandung: Alfabeta, 2011, h. 134.
[13] Sudarwan Danim, Perkembangan Peserta Didik, Bandung: Alfabeta, 2011, h. 135.
[14] Sudarwan Danim, Perkembangan Peserta Didik, Bandung: Alfabeta, 2011, h. 135.
[15] Seto Mulyadi, dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h. 250.
[16] Sudarwan Danim, Perkembangan Peserta Didik, Bandung: Alfabeta, 2011, h.136.
[17] Sudarwan Danim, Perkembangan Peserta Didik, Bandung: Alfabeta, 2011, h. 136-137.
[18] Sudarwan Danim, Perkembangan Peserta Didik, Bandung: Alfabeta, 2011, h. 137.
[19] Seto Mulyadi, dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h. 256-257.
[20] Sudarwan Danim, Perkembangan Peserta Didik, Bandung: Alfabeta, 2011, h. 137-138.
[21] M. Nafiul Haris, Hubungan Antara Kreatif Dengan Belajar, Detiknews, 02 Agustus 2011.
[22] Dindin Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic 4, no. 1, (2011), h.  283.
[23] Dindin Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic 4, no. 1, (2011), h.  282.
[24] Dindin Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic 4, no. 1, (2011), h.  283.
[25] Sabrin, Hubungan Antara Kreativitas Siswa Dengan Hasil Belajar Akuntansi Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Kendari, Selami IPS 34, no. 1. (2011), h. 62.
[26] M. Nafiul Haris, Hubungan Antara Kreatif Dengan Belajar, Detiknews, 02 Agustus 2011.
[27] Dindin Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic 4, no. 1, (2011), h.  283.
[28] Dindin Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic 4, no. 1, (2011), h.  284.
[29] Dindin Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic 4, no. 1, (2011), h.  284.
[30] Dindin Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic 4, no. 1, (2011), h.  283.
[31] Dindin Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic 4, no. 1, (2011), h.  283.
[32] Dindin Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic 4, no. 1, (2011), h.  283.
[33] Azyzah Gita Maulana, dkk, Peranan Kreativitas Dalam Belajar, (Makalah Psikologi Pendidikan yang disajikan pada diskusi kelas di Universitas Negeri Padang, Padang 2015), h. 8.
[34] M. Nafiul Haris, Hubungan Antara Kreatif Dengan Belajar, Detiknews, 02 Agustus 2011.
[35] Azyzah Gita Maulana, dkk, Peranan Kreativitas Dalam Belajar, (Makalah Psikologi Pendidikan yang disajikan pada diskusi kelas di Universitas Negeri Padang, Padang 2015), h. 12.
[36] Azyzah Gita Maulana, dkk, Peranan Kreativitas Dalam Belajar, (Makalah Psikologi Pendidikan yang disajikan pada diskusi kelas di Universitas Negeri Padang, Padang 2015), h. 13.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hadits tentang Larangan Korupsi dan Kolusi

  HADITS TARBAWI HADIS LARANGAN KORUPSI DAN KOLUSI Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hadits Tarbawi yang dibimbing oleh Bapak Dr. La Ode Ismail Ahmad, M.Th.I OLEH: KELOMPOK 8 Nur Annisa                              NIM: 20100116066 Sitti Fatimah S                        NIM: 20100116062 Yuliasti                                    NIM: 20100116052 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR TAHUN AKADEMIK 2016/1017 ...

Kalimat dalam Bahasa Indonesia dan Pembagiannya

BAHASA INDONESIA KALIMAT DAN PEMBAGIANNYA OLEH: YULIASTI NIM: 20100116052 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR TAHUN AKADEMIK 2016/1017   KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah yang masih memberikan kesehatan dan kesempatannya kepada kita semua, terutama kepada penulis. Sehingga penulis dapat menyelesaikan masalah ini. Berikut ini, penulis mempersembahkan sebuah makalah yang berjudul   “Kalimat Dalam Bahasa Indonesia”, penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca semua, terutama bagi penulis sendiri. Kepada pembaca yang budiman, jika terdapat kekurangan atau kekeliruan dalam makalah ini, penulis mohon maaf, karena penulis sendiri dalam tahap belajar. Dengan demikian, tak lupa penulis ucapkan terima kasih, kepada para pembaca. Semoga Allah memberkahi makalah ini sehingga benar-benar bermanfaa...

Mubtada dan Khabarnya

MUBTADA DAN KHABAR (JUMLAH ISMIYYAH DAN JUMLAH FI’LIYYAH) Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Arab Semester 3 Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar OLEH KELOMPOK 03 : SYAIKHAH FAKHRUNNISA NIM:201001160 50 MIFTAHUL JANNAH NIM:201001160 51 YULIASTI NIM:201001160 52 JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR 2017 MUBTADA A.     Pengertian Mubtada اَلْمُبْتَدَاُهُوَاَلاِسْمُ اَلْمَرْفُوْغُ اَلْعَأرِى عَنِ اَلْعَوَامِلِ اَلْلَفْظِيَّةِ وَالْخَبَرُهُوَالْاِسْمُ الْمَرْفُوْعُ الْمُسْنَدُاِلَيْهِ نَحْوُقَوْلِكَ زَيْدٌقَاءِمٌ وَالزَّيْدَانِ قَاءِمٌ وَالزَّيْدَانِ قَاءِمَانِ وَالزَّيْدُوْنَ قَاءِمُوْنَ Mubtada ada lah isim marfu' yang bebas dari amil lafazh, sedangkan khabar ialah isim marfu' yang di-musnad-kan kepada mubtada, contohnya seperti perkataan:   ...