MENGEMBANGKAN KREATIVITAS SISWA

Diajukan Untuk Memenuhi
Salah Satu Tugas Mata Kuliah Bimbingan Dan Konseling Semester 5 Jurusan Pendidikan Agama Islam
Fakultas Tarbiyah Dan
Keguruan
UIN Alauddin Makassar
OLEH:
Kelompok 4
LA ODE ANDI MUHAMMAD M. NIM: 20100116092
MUH. KHAERUL AMRI NIM: 20100116077
RISALDI NIM: 20100116060
ASRINA NIM: 20100116048
YULIASTI NIM:
20100116052
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2018/2019
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kreativitas merupakan
hal yang sangat penting, karena kreativitas merupakan suatu kemampuan yang
sangat berarti dalam proses kehidupan manusia. Istilah
kreativitas atau daya cipta sering digunakan di lingkungan sekolah, perusahaan,
ataupun lingkungan lainnya. Pengembangan kreativitas ini diperlukan untuk
menghadapi arus era globalisasi. Kreativitas biasanya diartikan sebagai
kemampuan untuk mencipta suatu produk baru. Ciptaan itu tidak perlu seluruh
produknya harus baru, mungkin saja gabungannya atau kombinasinya, sedangkan
unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya.
Kreativitas dapat pula dilihat
sebagai suatu proses dan mungkin inilah yang lebih penting untuk dilihat
terutama dalam situasi pendidikan, kreativitas sebagai suatu proses dari adanya
kesenangan akan keterlibatan se-seorang terhadap kegiatan kreatif. Dalam situasi
pendidikan, proses belajar mengajar me-rupakan salah satu dari bentuk
kegiatannya. Melalui proses belajar mengajar, kreativitas siswa dapat dipupuk
dan dikembangkan. Hal ini dapat diwujudkan dalam bentuk kegemaran untuk terlibat
dalam mencari pengetahuan seperti, membaca buku di perpustakaan, kegiatan di
laboratorium, dan lain-lain). keberanian da-lam mengemukakan ide maupun
pendapat (seperti dalam diskusi dan seminar), aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler,
dan lain-lain.
Kreativitas merupakan salah satu
upaya pendidik untuk meningkatkan kemampuan siswa, yaitu meningkatkan prestasi
belajar. Tinggi rendahnya prestasi belajar yang dicapai oleh setiap siswa akan
sangat dipengaruhi oleh kualitas pribadi dari masing-masing siswa. Salah satu
faktor yang berperan besar terhadap belajar siswa ialah faktor kreativitas,
dalam dunia pendidikan kemampuan berpikir kreatif atau kreativitas ini perlu
dikembangkan dengan cara meningkatkan kesenangan siswa untuk bersibuk diri
secara kreatif, siswa diharapkan dapat meningkatkan wawasan ilmu pengetahuannya
sehingga siswa mampu memecahkan tugas-tugas belajarnya secara efektif.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa definisi
kreativitas?
2.
Bagaimana ciri-ciri
kreativitas?
3.
Bagaimana tahap-tahap pengembangan kreativitas?
4.
Bagaimana
hubungan kreativitas dengan belajar siswa?
II
PEMBAHASAN
A. Definisi Kreativitas
Kreativitas
adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau
unsur-unsur yang ada. Kreativitas biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk
mencipta suatu produk baru. Ciptaan itu tidak seluruhnya harus baru mungkin
saja gabungannya atau kombinasinya sedangkan unsur-unsur lain sudah ada
sebelumnya. Yang dimaksud dengan data, informasi dan unsur-unsur yang ada dalam
arti sudah ada sebelumnya, atau sudah dikenal sebelumnya adalah semua
pengalaman yang diperoleh seseorang selama hidupnya. Disini termasuk segala
pengetahuan yang pernah diperolehhnya baik selama di bangku sekolah maupun yang
dipelajari dalam keluarga dan dalam masyarakat.[1]
Secara konvensional kreativitas menurut Baron, didefinisikan dengan
pendekatan tiga P yaitu pendekatan: pribadi yang kreatif, proses kreatif, dan
produk kreatif. Kemudian timbul pandangan baru yang menyatakan bahwa pendekatan
press, juga penting untuk memahami kreativitas. Keempat pendekatan tersebut saling berkaitan secara jelas. Produk
kreatif merupakan hasil proses kreatif yang muncul dari seseorang yang kreatif
yang didukung oleh lingkungan yang kondusif (press). Berikut ini
penjelasan masing-masing pendekatan kreativitas.[2]
1.
Pendekatan
Pribadi Kreatif
Menurut Hulbeck tindakan pribadi kreatif didefinisikan sebagai
berikut. “Creative action is an imposing of one’s own whole personality on
the environment in a unique and characteristic way”. Tindakan kreatif
muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan
lingkungannya.[3]
Sternberg dan Lubart menyatakan bahwa ada enam elemen yang menyatu
membentuk kreativitas: inteligensi, pengetahuan, gaya berpikir, kepribadian,
motivasi, dan lingkungan. Inteligensi termasuk salah satu kekuatan yang
bergabung memengaruhi perilaku dan pikiran kreatif. Berdasar teori triachic
human intelligence Sternberg, tiga aspek inteligensi yang memengaruhi
kreativitas, adalah sintesis, analisis, dan kemampuan praktis.[4]
Kemampuan sintesis adalah kemampuan membangkitkan ide yang baru,
berkualitaas tinggi dan sesuai dengan tugas. Karena kreativitas dipandang
sebagai sesuatu yang baru, berkualitas tinggi dan sesuai dengan tugas, maka
kreativitas bervariasi berdasar pribadi, tugas dan lingkungannya. Elemen kunci
utama kemampuan sintesis adalah yang disebut Sternberg metacomponent
atau metakognisi. Metakomponen adalah salah satu proses pembuatan definisi
baru. Dengan kata lain,
pribadi yang kreatif melihat masalah yang dilihat orang lain dengna cara yang
sama sekali berbeda. Ini berarti ide tersebut “menentang orang banyak” atau
dengan istilah umum “melawan arus”.
Peran analisis inteligensi dalam penerapan kreativitas berkaitan
dengan kemampuan mengevaluasi ide-idenya sendiri, dan kemudian memutuskan ide
yang mana bermakna untuk diteruskan. Bila ide tertentu bermakna untuk
diteruskan, kemampuan analisis dapat digunakan lebih lanjut untuk mengevaluasi
kekuatan dan kelemahan ide tersebut, sehingga dapat ditemukan cara
menyempurnakan ide tersebut. Pribadi yang kemampuan sintesisnya tinggi tetapi
kemampuan analisisnya rendah, mungkin membutuhkan orang laIn untuk berperan sebagai evaluator.
Kemampuan praktis, yaitu kemampuan menerapkan keterampilan
intelektual dalam konteks kehidupan sehari-hari. Karena ide-ide kreatif
cenderung sering ditolak, maka penting sekali orang yang ingin kreativitasnya
berdampak, harus menemukan cara mengomunikasikan ide secara efektif, dan
belajar memengaruhi orang lain mengenai keunggulan ide-idenya.
2.
Pendekatan
Proses Kreatif
Menurut Torrance kreativitas
didefinisikan sebagai proses yang menyerupai langkah-langkah dalam metode
ilmiah, yaitu:
a.
Memahami adanya
kesulitan, masalah kesenjangan informasi, elemen yang hilang, sesuatu yang
menyimpang (askew).
b.
Memperkirakan dan
merumuskan hipotesis tentang perbedaan-perbedaan.
c.
Menilai dan
mengetes perkiraan (guesses) dan hipotesis.
d.
Memperbaiki dan
mengetes kembali.
e.
Mengomunikasikan
hasil.[5]
3.
Pendekatan
Produk Kreatif
Definisi yang tefokus pada produk kreatif menekankan unsur
orisinalitas, kebaruan, dan kebermaknaan. Definisi yang menekankan kebaruan
atau hal-hal yang baru seperti dikemukakan Baron sebagai berikut: “Creativity
may be defined, quite simply, as the ability to bring something new
into existence”. Kreativitas dapat didefinisikan secara sangat sederhana
sebagai kemampuan menciptakan sesuatu yang baru. Menurut Mason yang menekankan
pada orisinalitas, kreativitas dalam pemahaman yang paling baik mempersyaratkan
dua hal, yaitu suatu konsep atau ide yang orisinil dan suatu keuntungan bagi
seseorang. Sedangkan pendapat yang menekankan pada kebermaknaan dikemukakan
oleh Haefele yaitu, kreativitas dapat didefnisikan sebagai kemampuan membuat
kombinasi baru yang bermakna sosial.[6]
4.
Pendekatan
Pendorong Kreatif (Press)
Pendekatan ini terfokus pada dorongan kreatif, sosial dan lingkungan psikologi. Ini berarti
terdapat dua macam dorongan yaitu internal (dari diri sendiri) maupun dorongan
eksternal (dari lingkungan sosial dan psikologi).
Ng Aik Kwang menyebutkan tentang pendekatan selain pendekatan 4P, yaitu pendekatan kognisi,
kepribadian, psikologi sosial, dan sistem.
a. Pendekatan Kognisi
Seseorang dikatakan kreatif apabila mampu
melakukan pemecahan masalah secara praktis dan inovatif. Hal ini dikarenakan
adanya kebutuhan. Ini menuntut adanya beberapa hal yang jarang ditemukan dalam
pemecahan masalah biasa. Di antaranya suatu masalah yang sulit menentukan sifat
dari masalahnya, sehingga sulit menentukan apa yang harus dilakukan, sulit
menentukan informasi yang harus dikumpulkan, dan cara-cara yang tidak konvensional.
b. Pendekatan Kepribadian yang Kreatif
1) Seorang kreatif memperlihatkan keinginan yang
asli (genuine) mengenai apa yang ingin dilkukan.
2) Keinginan tersebut menyebabkan seorang kreatif
bersedia menambah waktu da energinya untuk mencapai tujuannya.
3) Memiliki toleransi terhadap ambiguitas yang
tinggi.
4) Tertarik mendalami masalah-masalah yang
kompleks dan berminat pada bidang-bidang yang luas.
5) Sangat percaya pada dirinya sendiri tentang
apa yang dilakukan dan bertindak bebas dan otonom.
c. Pendekatan Lingkungnan yang Kreatif
Amabile menyatakan suatu produk atau respons disebut
kreatif apabila beberapa peneliti yang sesuai secara bebas menyetujui bahwa
produk itu dikatakan kreatif. Peneliti yang sesuai adalah para ahli dalam ranah
dari produk tersebut.[7]
Hasil penelitian
Amabile dan teman-teman menyimpulkan motivasi intrinsik sangat berperan dalam
menghasilkan produk kreatif. Menurut Amabile terdapat tiga komponen dalam
motivasi intrinsik, yaitu:
a) Keterampilan dalam ranah yang relevan (domain-relevant
skill) yang mengacu pada pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang
berkaitan dengan ranah khusus di mana seorang kreatif tertarik.
b) Keterampilan yang relevan dengan kreativitas (creativity-relevant
skill) yang mengacu pada kemampuan kognisi, seperti kemampuan berpikir divergen,
ciri-ciri kepribadian seperti keterbukaan terhadap pengalaman, kecondongan
mengambil resiko, toleransi yang besar terhadap kebermaknaan ganda
(ambiguitas).
c) Motivasi intrinsik yang mengacu pada keinginan
untuk melakukan suatu tugas yang masih dipertanyakan.[8]
d. Pendekatan Sistem
Kreativitas
tidak akan terjadi dalam keadaan sosial yang hampa (vacum). Sebaliknya
justru harus ada hubungan yang erat antara orang yang kreatif dengan dunia
sosilanya, tempat membentuk aktivitas kreatifnya.
Aspek kunci
terhadap kreativitas sehingga menjadi lebih menyeluruh adalah sistem
kreativitas. Pendekatan lain lebih cenderung untuk memahami apa itu
kreativitas? Pendekatan sistem cenderung membahas di mana kreativitas?
|
![]() |
|||||||
|
|
||||||
Gambar Perspektif Sistem Kreativitas
Keterangan:
·
Ranah: Sejumlah prosedur dan peraturan simbolis, prosedur
dalam arsitektur dan matematika.
·
Bidang: Seluruh individu yang bertindak sebagai penjaga
gawang yang tugasnya menentukan ide baruatau produk baru masuk dalam ranah atau
tidak.
·
Individu: orang yang tertarik menyusun kembali
elemen-elemen yang konvensional ke dalam ranah yang sedang dikerjakan dan
diyakini sangat penting dalam perubahan secara kreatif dalam ranah tersebut.
Kreativitas dan Teori Belahan Otak
Perkembangan
kreatif peserta didik sangat erat kaitannya dengan perkembangan kognitifnya. Karena
sesungguhnya kreativitas merupakan perwujudan dari pekerjaan otak. Para pakar
kreativitas, misalnya Clark dan Gowan melalui Teori Belahan Otak (Hemisphere
Theory) mengatakan bahwa sesungguhnya otak manusia itu menurut fungsinya
terbagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kiri dan belahan otak kanan. Belahan
otak kiri mengarah kepada cara berpikir konvergen (convergent thinking),
sedangkan otak belahan kanan mengarah keapada cara berpikir menyebar (divergent
thinking).[10]
Berkenaan dengan teori belahan otak beserta funngsinya, Clark
mengemukakan sejumlah fungsi otak sesuai dengna belahannya. Menurutnya, ketika
otak kanan sedang bekerja maka otak kiri cenderung lebih tenang, demikian pula
sebaliknya. Otak kanan berfungsi dalam hal persamaan, khayalan, kreativitas,
bentuk atau ruang, emosi, musik, dan warna. Jadi, otak kanan berfungsi dalam
perkembangan kecerdasan emosional (emotional quotient, EQ). sedangkan
otak kiri berfungsi dalam hal perbedaan, angka, urutan, tulisan, bahasa,
hitungan, dan logika. Jadi otak kiri berfungsi sebagai pengendali kecerdasan
intelektual (intelligence/intellectual quotient, IQ).[11]
Daya ingat otak kanan bersifat jangka panjang (long term memory),
sedangkan daya ingat otak kiri bersifat jangka pendek (short term memory).
Bila terjadi kerusakan pada otak kanan, makafungsi otak yang terganggu adalah
kemampuan visual dan emosi. Sedangkan apabila terjadi kerusakan pada otak kiri,
maka terjadi gangguan dalam hal fungsi berbicara, berbahasa, dan matematika.
Meski terdapat perbedaan fungsi pada kedua belahan otak, setiap individu ataupun peserta didik mempunyai
kecenderungan untuk menggunakan salah satu belahan yang dominan dalam
menyelesaikan masalah hidup dan pekerjaan. Setiap belahan saling mendominasi
dalam aktivitas, namun baik otak kiri maupun otak kanan terlibat pada hampir
semua proses berpikir manusia. Berikut ini perbedaan ringkas antara otak kiri
dan otak kanan dalam berpikir.[12]
|
Otak kiri
|
Otak kanan
|
|
Logis
|
Acak
|
|
Berurut
|
Intuitif
|
|
Rasional
|
Holistik
|
|
Analitik
|
Sintetis
|
|
Objektif
|
Subyektif
|
|
Melihat bagian
|
Melihat keutuhan
|
Perkembangan Kreativitas
Perkembangan kreativitas menjadi bagian integral dari proses
perkembangan kognitif. Ketika memasuki usia dini, perkembangan kognitif anak
memperlihatkan kecenderungan suasana intuitif. Semua perbuatan rasionalnya
tidak banyak memperoleh dukungan dari pemikiran, melainkan sangat kuat
dipengaruhi oleh perasaan, kecenderungan alamiah, sikap-sikap yang diperoleh
dari orang dewasa, dan lingkungan di sekitarnya.
Ketika memasuki usia dasar anak mulai menyesuaikan diri dengan
realitas konkret, disertai dengan berkembangnya rasa ingin tahu yang cukup
kuat. Proses interaksi anak dengan lingkungan, termasuk dengan orang tua, sudah
semakin berkembang dengan baik. Kreativitas anak pun makin berkembang pada masa
ini. Sejalan dengan itu sifat egosentrisnya semakin berkurang. Menurt Piaget
dan beberapa pakar lainnya, faktor-faktor memungkinkan semakin berkembangnya
kreativitas itu adalah sebagai berikut:
· Kemampuan berimajinasi tentang sesuatu, meskipun masih memerlukan
bantuan objek-objek konkret.
· Kemampuan berpikir logis dalam bentuk sederhana.
· Kemampuan menampilkan operasi-operasi mental.
· Berkembangnya kemampuan memelihara identitas diri.
· Meluasnya konsep tentang ruang sudah semakin meluas.
· Kesadaran akan adanya masa lalu, masa kini, dsan masa yang akan
datang.[13]
Ketika memasuki
usia sekolah menengah pertama, interaksi anak dengan lingkungan makin meluas,
demikian juga pergaulan dengan teman sebaya dan orang dewasa. Perkembangan
kreativitas anak pada tahap ini sangat potensial dan relatif mudah diaktualkan.
Beberapa faktor yang mendukung berkembangnya potensi kreativitas yang dimaksud
disajikan berikut ini.
·
Kemampuan mengkombinasikan tindakan secara proporsional
berdasarkan pemikiran logis.
·
Kemampuan melakukan kombinasi objek-objek secara
proporsional berdasrkan pemikiran logis.
·
Pemahaman relatif tentang ruang dan waktu.
·
Kemampuan memisahkan dan mengendalikan variabel-variabel
dalam menghadapi masalah yang kompleks.
·
Kemampuan melakukan abstraksi reflektif dan berpikir
hipotesis.
·
Kemampuan menunjukkan “keidealan” diri pribadi.
·
Kemampuan menguasai bahan abstrak.
·
Kemampuan merfleksi masa depan.
·
Kemampuan membedakan aneka fenomena dan objek.[14]
B. Ciri-ciri Kreativitas
Ciri-ciri utama
kreativitas dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Ciri Bakat (Aptitude Trait), ciri-ciri
ini dioperasionalkan dalam tes berpikir divergen, yaitu meliputi:
1) Kelancaran (fluency) adalah kemampuan
untuk memberikan gagasan-gagasan dengan cepat (penekanan pada kuantitas).
2) Kelenturan (flexibility) adalah
kemampuan untuk memberikan gagasan yang beragam, bebas dari perserevasi.
3) Orisinalitas (originality) adalah
kemampuan untuk memberikan gagasan yang secara statistik unik dan langka untuk
populasi tertentu dan kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru atau
membuat kombinasi-kombinasi baru antara macam-macam unsur atau bagian. Makin
banyak unsur-unsur yang dapat digabung menjadi satu gagasan atau produk, makin
orisinal pemikiran individu.
4) Kemampuan mengelaborasi adalah kemampuan untuk
mengembangkan, merinci dan memperkaya suatu gagasan.
b.
Ciri-ciri Non
Aptitude Trait
1)
Kepercayaan
diri
2)
Keuletan dan
apresiasi estetik
3)
Rasa ingin tahu
4)
Tertarik
terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai tantangan
5)
Berani
mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau untuk dikritik orang lain
6)
Tidak mudah
putus asa
7)
Menghargai
keindahan
8)
Mempunyai rasa
humor
9)
Ingin mencari pengalaman-pengalaman
baru
Ciri-ciri kreativitas yang dikemukakan oleh Utami Munandar yaitu antara lain:
·
Senang mencari pengalaman baru.
·
Memiliki keasyikan dalam mengerjakan tugas-tugas yang
sulit.
·
Memiliki inisiaif.
·
Memiliki ketekunan yang tinggi.
·
Cenderung kritis terhadap orang lain.
·
Berani menyatakan pendapat dengan keyakinannya.
·
Selalu ingin tahu.
·
Peka atau perasa.
·
Enerjik dan ulet.
·
Menyukai tugas-tugas yang majemuk.
·
Percaya kepada diri sendiri.
·
Mempunyai rasa humor.
·
Memiliki rasa keindahan.
·
Berwawasan masa depan dan penuh imajinasi.[16]
Banyak kesamaan
dengan pendapat Utami Munandar, Clark mengemukakan karakteristik kreativitas
seperti berikut ini.
·
Memiliki kedisiplinan diri yang tinggi.
·
Memiliki kemandirian yang tinggi.
·
Cenderung sering menentang otoritas.
·
Memiliki rasa humor.
·
Mampu menentang tekanan kelompok
·
Lebih mampu menyesuaikan diri.
·
Senang berpetualang.
·
Toleran terhadap ambiguitas.
·
Kuang toleran terhadap hal-hal yang membosankan.
·
Menyukai hal-hal yang kompleks.
·
Memiliki kemampuan berpikir divergen yang tinggi.
·
Memiliki memori dan atensi yang baik.
·
Memiliki wawasan yang luas.
·
Mampu berpikir periodik.
·
Memerlukan situasi yang mendukung.
·
Sensetif terhadap lingkungan.
·
Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
·
Memiliki nilai estetik yang tinggi.
·
Lebih bebas dalam mengembangkan integrasi peran seks.[17]
Piers dan Torrance berpendapat bahwa karakteristik
kreativitas seperti berikut ini.
·
Memiliki dorongan (drive) atau kemauan yang
tinggi.
·
Memiliki keterlibatan yang tinggi.
·
Memiliki ketekunan yang tinggi.
·
Cenderung tidak merasa puas terhadap kemapanan.
·
Memiliki kemandirian yang tinggi.
·
Bebas dalam mengambil keputusan.
·
Menerima diri sendiri.
·
Senang humor.
·
Memiliki intuisi yang tinggi.
·
Cenderung tertarik kepada hal-hal yang kompeks.
·
Toleran terhadap ambiguitas.
·
Bersifat sensitif.
·
Memiliki rasa ingin tahu yang besar.
·
Tekun dan tidak mudah bosan.
·
Percaya diri dan mandiri.
·
Merasa tertantang oleh kemajuan atau kompleksitas.
·
Berani mengambil resiko.
·
Berpikir divergen.[18]
Berikut ini pula disebutkan ciri-ciri kepribadian kreatif menurut
Csikzentmihalyi, yaitu antara lain:
·
Pribadi kratif
mempunyai kekuatan energy fisik yang memungkinkan mereka bekerja berjam-jam
dengan konsentrasi penuh, tetapi mereka juga bisa tenang dan rileks, bergantung
pada situasinya.
·
Pribadi kreatif
cerdas dan cerdik, tetapi pada saat yang sama mereka juga naïf. Mereka mampu
berpikir konvergen dan divergen.
·
Ciri paradoksal
ketiga berkaitan dengan kombinasi antara sikap bermain dan disiplin.
·
Pribadi kreatif
dapat berselang-seling antara imajinasi dan fantasi, namun tetap bertumpu pada
realitas.
·
Pribadi kreatif
menunjukkan kecenderungan baik introversi maupun ekstroversi.
·
Orang kreatif
dapat bersikap rendah diri dan bangga akan karyanya pada saat yang sama.
·
Pribadi kreatif
menunjukkan androgini psikologis, yaitu mereka dapat melepaskan diri dari
stereotip gender (maskulin-femenim).
·
Orang kreatif
cenderung mandiri bahkan suka menentang tetapi di lain pihak mereka bisa tetap
tradisional dan konservatif.
·
Kebanyakan
orang kreatif sangat bersemangat (passionate) bila menyangkut karya
mereka, tetapi juga sangat objektif dalam penilaian karyanya.
·
Keunggulan
sering mengundang tantangan dari lingkungan dan pribadi kreatif bisa merasa
terisolir dan seperti tidak dipahami.[19]
C. Tahap-tahap Pengembangan Kreativitas
Wallas mengemukakan empat tahapan proses kreatif, yaitu
persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Selain empat tahapan tersebut,
Sudarwan Danim menambahkan dua tahapan, yaitu penyadaran dan tindakan sebagai
bagian dari pengembangan krativitas.
1. Penyadaran (conciousness) akan
imajinasi. Peserta didik yang kratif memiliki banyak imajinasi. Seringkali
imajinasi berlalu begitu saja, tanpa adanya kesadaran atasnya. Oleh sebab itu,
ide-ide kreatif yang terlontar sebagai imajinasi perlu diinternalisasi
sedemikian rupa, laksana keinginan mentranformasikan mimpi menjadi realitas.
Keinginan untuk mewujudkan realitas inilah yang disebut sebagai penyadaran dan
kesadaran untuk bertindak kreatif.
2. Persiapan (preparation), di mana
peserta didik berusaha mengumpulkan informasi atau data untuk memecahkan
masalah yang dihadapai sehingga menjadi tindakan kreatif. Dengan bekal ilmu
pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, peserta didik berusaha menjajaki
berbagai kemungkinan jalan yang dapat ditempuh untuk memecahkan masalah yang
bersifat kreatif tersebut.
3. Inkubasi (incubation), di mana peserta
didik seolah-olah melepaskan diri unutuk sementara waktu dari masalah yang
dihadapinya, dalam pengertian tidak memikirkannya secara sadar melainkan
“menghadapinya” dalam alam prasadar.
4. Iluminasi (illumination), di mana
peserta didik mulai membangun proses prikologis unutuk mempersiapkan diri bagi
transformasi tindakan kreatif atas gagasan baru yang dimilikinya.
5. Verifikasi (verivication), di mana
gagasan yang telah muncul dievaluasi secara kritis dan konvergen serta
menghadapkannya kepada realitas. Pemikiran divergen sangat perlu, namun harus
diikuti dengan pemikiran konvergen. Di sini, pemikiran dan sikap spontan harus
diikuti oleh pemikiran selektif dan sengaja. Penerimaan secara total harus
diikuti oleh kritik unutuk kemudian melakukan persiapan bagi pengujian terhadap
realitas.
6. Tindakan kreatif (creative action), di
mana peserta didik melakukan tindakan nyata atas ide-ide kreatif atau
imajinasinya, sehingga mewujud menjadi kenyataan yang dikehendaki.[20]
D. Hubungan Kreativitas dengan Belajar Siswa
Belajar merupakan proses
interaksi antara individu dengan individu lain atau lingkungannya yang dapat
merubah tingkah laku suatu individu. Perubahan tingkah laku terjadi sebagai
hasil dari pengalaman atau belajar. Pengalaman dalam arti kata penghayatan
peristiwa secara langsung (misalnya terlalu lama terkena sinar matahari
menimbulkan kepala terasa pening) dan penghayatan peristiwa secara tidak
langsung, artinya melalui suatu perantara orang lain, buku, atau sumber
informasi lainnya. Perubahan
tingkah laku yang timbul bukan sebagai hasil dari pengalaman tidak termasuk
dalam batasan belajar.
Selain hal itu, beberapa hal lain yang terkait
perubahan tingkah laku adalah memecahkan masalah (problem solving), bagi
siswa aktif dan guru harus mengarahkan, serta hasil belajar diukur dengan
berbagai cara tidak hanya melalui tes saja namun dengan cara yang berbeda-beda
dan dapat menghasilkan prestasi yang unggul.[21]
Proses belajar pada dasarnya merupakan hal
terpenting dalam proses pendidikan secara keseluruhan dan merupakan tempat bagi
pengembangan aktivitas dan kreativitas. Dalam proses belajar tersebut akan terjadi
perubahan tingkah laku yang diarahkan untuk tercapainya tujuan pendidikan.
Proses belajar mengajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor internal
maupun eksternal, sehingga hasil belajar yang dicapai akan banyak tergantung
pada faktor-faktor tersebut yang saling berinteraksi satu sama lain. Faktor
eksternal adalah faktor di luar diri individu yang mempengaruhi proses belajar,
yang dapat digolongkan ke dalam faktor sosial dan faktor non sosial.
Faktor sosial adalah faktor-faktor yang
menyangkut hubungan antara manusia yang terjadi didalam berbagai situasi
sosial. Termasuk kedalamnya adalah faktor keluarga, sekolah, kelompok sebaya
dan masyarakat pada umumnya. Sedangkan faktor non sosial adalah faktor-faktor
yang bukan sosial, yang termasuk kedalamnya lingkungan alam dan atau fisik, misalnya
kondisi rumah, gedung sekolah, fasilitas belajar, penerangan dan sebagainya.
Adapun faktor internal atau faktor dalam diri
individu adalah faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu sebagai seorang
siswa. Faktor-faktor internal ini adalah faktor fisiologis yaitu setiap
ciri-ciri jasmaniah individu dan faktor psikologis yaitu setiap ciri-ciri
psikologis individu. Faktor psikologis ini mencakup faktor intelektual baik
potensial maupun aktual dan faktor nonintelektual yaitu berupa komponen kepribadian
seperti sikap, kebiasan, minat, kebutuhan, motivasi, penyesuaian akademis, dan
komponen kepribadian lainnya.[22]
Dalam proses belajar, pada umumnya individu
akan selalu berusaha untuk meraih prestasi yang optimal dan tentunya harus
diraih melalui suatu usaha yang optimal dan sarana prasarana yang memadai.
Prestasi adalah suatu keberhasilan dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Pada
hakekatnya prestasi belajar adalah hasil belajar yang merupakan perubahan yang
terdapat dalam individu yang dimanifestasikan dalam pola tingkah laku.
Winkel mengatakan: “Prestasi adalah bukti
keberhasilan yang telah dicapai. Belajar adalah suatu proses mental yang
mengarah kepada penguasaan pengetahuan, kecakapan/skill, kebiasaan atau sikap
yang semuanya diperoleh, disimpan dan dilaksanakan sehingga menimbulkan tingkah
laku yang progresif dan adaptif. Secara singkat belajar merupakan suatu
perubahan dalam tingkah laku yang merupakan hasil dari pengalaman. [23]
Menurut S. Nasution prestasi belajar adalah:
“Kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat.
Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni:
kognitif, afektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang
memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria
tersebut.[24]
Prestasi belajar atau
nilai hasil belajar tinggi yang selalu diinginkan oleh siswa pada umumnya dapat
diraih melalui kreativitas belajar. Menurut hasil penelitian Sabrin hasil
belajar siswa sangat berkaitan erat dengan kreativitas yang dimiliki oleh
seorang siswa. Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa setelah
melakukan kegiatan belajar dalam jangka waktu tertentu. Siswa yang aktif dapat
dikatakan kreatif jika siswa dapat memberikan bermacam-macam alternatif
jawaban.[25]
Tujuan pendidikan itu
sendiri pada umumnya ialah menyediakan lingkungan yang memungkinkan siswa untuk
mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal, sehingga ia dapat
mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya, sesuai dengan kebutuhan pribadinya
dan kebutuhan masyarakat. Untuk mengoptimalkan pengembangan bakat dan
kemampuan tersebut dibutuhkan pribadi yang kreatif.
Kreatif secara umum dapat diartikan sebagai
suatu usaha untuk mengembangkan kemampuan diri atau keterampilan berfikir.
Sifat kreatif selain merupakan potensi diri juga merupakan tuntutan, karena
zaman yang semakin kompleks ini, yang selalu membutuhkan peran serta setiap
orang dalam bidangnya masing-masing sesuai dengan tuntutan zaman.[26]
Guilford berpendapat
kreativitas atau berpikir kreatif sebagai kemampuan untuk melihat
bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah, merupakan
bentuk pemikiran yang sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam
pendidikan. Di sekolah yang
terutama dilatih adalah penerimaan pengetahuan, ingatan, dan penalaran.
Bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat bagi diri pribadi maupun
bagi lingkungan, tetapi juga memberikan kepuasan kepada individu.
Kreatifitaslah yang memungkinkan manusia dapat meningkatkan kualitas hidupnya.[27]
Rogers menyatakan bahwa kreativitas adalah suatu potensi
yang dimiliki oleh manusia sejak lahir. Adapun bagaimana potensi itu kelak akan
ditampilkan keluar ada-lah tergantung dari suatu kondisi yang dapat memotivasi
individu tersebut untuk bertindak kretif. Kreativitas menurut Rogers juga merupakan kemampuan untuk membentuk hubungan yang baru
dengan lingkungan.[28]
Potensi kreativitas yang dimiliki setiap siswa
dapat mengalami hambatan di dalam pengembangannya dengan adanya beberapa
kondisi yang kurang dapat memotivasi seseorang untuk bertindak kreatif.
Kondisi-kondisi tersebut menurut Rogers bisa bersifat internal maupun
eksternal.
Kondisi internal pertama adalah suatu kondisi
yang dikaitkan dengan psychological defensiveness. Bila seorang individu
melindungi diri dari pengalamannya atau menolak secara sadar keterlibatannya,
maka individu tersebut cenderung menghindar, sehingga dia menjadi apatis.
Tetapi pada orang-orang yang terbuka terhadap pengalamannya yaitu bebas dalam
menentukan setiap pengalaman yang diterimanya maka pendapat dan pengamatannya
akan membentuk tindakan yang lebih kreatif. Artinya individu tersebut memiliki
tingkat frigiditas yang rendah, memiliki toleransi terhadap hal-hal yang kurang
jelas serta mampu menyadari ketidakjelasan tersebut.
Kondisi internal kedua adalah kondisi yang
berhubungan dengan internal locus of evaluation. Kondisi ini
menuntut adanya kemampuan mengevaluasi secara internal dalam diri individu
yaitu kemampuan menerima hasil kreativitas seseorang tidak ditetukan oleh
pujian atau kritikan dari orang lain tetapi oleh diri sendiri. Kondisi internal
ketiga adalah adanya keterbukaan dan keluwesan individu secara spontan dalam
bermain dengan ide-ide, warna, bentuk atau hubungan yang ada dalam lingkungannya
sehingga meghasilkan sesuatu yang baru. Adapun kondisi eksternal yang mendukung
kreativitas menurut Roger adalah kondisi yang mampu memupuk dan mengembangkan
kondisi internal, agar terbentuk berpikir kreatif yang konstruktif pada setiap
individu.[29]
Torrance dan Myers
berpendapat bahwa belajar kreatif adalah menjadi peka atau sadar akan masalah,
kekurangan-kekurangan, kesenjangan dalam pengetahuan, unsur-unsur yang tak ada,
ketidakharmonisan dan sebagainya, mengumpulkan informasi yang ada, membataskan
kesukaran atau mengidentifikasikan unsur yang tidak ada, mencari jawabannya
membuat hipotesis, mengubah dan mengujinya, menyempurnakan dan akhirnya
mengkomunikasikannya.[30]
Torrance dan Myers selanjutnya juga melihat proses
belajar kreatif sebagai: Keterlibatan dengan sesuatu yang berarti. Rasa ingin
tahu dan ingin me-ngetahui dalam kekaguman, ketidaklengkapan, kekacauan, kerumitan,
ketidakselarasan, ketidakteraturan dan sebagainya. Kesederhanaan dari struktur
atau mendiagnosis suatu kesulitan dengan mensintesiskan informasi yang telah
diketahui, membentuk kombinasi baru atau mengidentifikasikan kesenjangan.[31]
Menurut Maslow dengan berkreasi, orang dapat
mengaktualisasikan dirinya, dan perwujudan atau aktualisasi diri merupakan
kebutuhan pokok pada tingkat tertinggi dalam hidup manusia. Kreativitas merupakan
manifestasi dari individu yang berfungsi sepenuhnya. [32]
Kreativitas dapat
dikembangkan melalui proses belajar diskaveri/inkuiry (pembelajaran yang
berpusat pada siswa) dan belajar bermakna, dan tidak dapat dilakukan hanya
dengan kegiatan belajar yang hanya bersifat ekspositori (pembelajaran yang
berpusat pada guru). Karena inti dari krativitas adalah pengembangan kemampuan
berfikir divergen dan bukan berfikir konvergen. Contoh bentuk pengembangan
pembelajaran tersebut ialah guru menciptakan situasi belajar mengajar yang
banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah, melakukan
beberapa percobaan, dan mengembangkan konsep-konsep atau gagasan siswa sendiri.[33]
Sebagai seorang siswa untuk
dapat menumbuhkan kreativitas dalam belajar seharusnya terlebih dahulu harus
mempersiapkan diri dalam menghadapi laju pendidikan yang menuntut siswa selalu
bergerak dinamis dan kompetitif. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk
mencapai tingkat kreativitas, yaitu
1.
Mengembangkan pemikiran bahwa siswa akan
belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri (riset),
dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
2.
Sedapat mungkin siswa dilatih memecahkan
permasalahannya sendiri.
3.
Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan
bertanya.
4.
Menciptakan masyarakat dengan belajar.
5.
Menghadirkan contoh pembelajaran.
6.
Melekukan refleksi di akhir pertemuan.
7.
Melakukan penilaian yang sebenarnya.[34]
Menurut Gibbs, ada
beberapa hal yang perlu dilakukan agar siswa lebih aktif dan kreatif dalam
belajarnya, antara lain:
1. Dikembangkannya rasa percaya diri pada diri siswa dan mengurangi rasa
takut.
2. Memberikan kesempatan pada seluruh siswa untuk berkomunikasi ilmiah secara
bebas terarah.
3. Melibatkan siswa dalam menentukan tujuan belajar dan evaluasinya.
4. Memberikan pengawasan yang tidak terlalu ketat dan tidak otoriter.
5. Melibatkan mereka secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran secara
keseluruhan.[35]
Adapun menurut Widada
untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa dalam proses pembelajaran,
guru dapat menggunakan pendekatan sebagai berikut.
1. Self Esteem Approach: guru memperhatikan
pengembangan self esteem (kesadaran akan harga diri) siswa.
2. Creative approach: guru mengembangkan problem
solving, brain storming, inquiry, dan role playing.
3. Value clarification an moral development approach: mengembangkan segenap
potensi siswa menuju tercapainya self actualization, termasuk dalam hal
etika dan moral.
4. Multipletalent approach: pengembangan seluruh
potensi siswa untuk membangun self concept yang menunjang kesehatan
mental.
5. Inquiry approach: guru memberikan
kesempatankepada siswa untuk mengungkapkan proses mental dalam menemukan konsep
atau prinsip ilmiah serta meningkatkan potensi ilmiahnya.
6. Pictorial riddle approach: mengembangkan metode
untuk mengembangkan motivasi dan minat siswa dalam diskusi kelompok kecil guna
membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
7. Synetics approach: lebih memusatkan
perhatian pada kompetensi siswa untuk membuka intelegensinya dan mengembangkan
kreativitasnya.[36]
Dengan adanya hal-hal yang mendukung kreativitas seperti yang telah
diuraikan di atas, maka akan sangat membantu guru dan siswa untuk mengembangkan kreativitas dan
juga untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Semakin tinggi kreativitas seorang siswa, makin semakin besar pula
peluang untuk mencapai tujuannya dalam proses pembelajaran.
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi
baru berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada. Kreativitas
biasanya diartikan sebagai kemampuan untuk mencipta suatu produk baru. Ciptaan
itu tidak seluruhnya harus baru mungkin saja gabungannya atau kombinasinya
sedangkan unsur-unsur lain sudah ada sebelumnya.
2.
Ciri-ciri utama kreativitas dapat dibedakan menjadi dua
yaitu: Ciri Bakat Aptitude Trait dan Ciri-ciri
Non Aptitude Trait.
3. Wallas mengemukakan empat tahapan proses
kreatif, yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Selain empat
tahapan tersebut, Sudarwan Danim menambahkan dua tahapan, yaitu penyadaran dan
tindakan sebagai bagian dari pengembangan krativitas.
4.
Kreativitas sangat berhubungan dengan belajar, baik
proses hingga hasil belajar. Kreativitas dalam belajar dapat meningkatkan hasil
belajar siswa.
B. Saran-saran
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna karena masih banyak
terdapat kesalahan maupun materi yang dibahas belum terperinci. Oleh karena
itu, kami meminta kritik dan saran dari pembaca sekalian, untuk perbaikan
makalah kami di masa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
Danim,
Sudarwan. Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Alfabeta, 2011.
Komarudin,
Dindin. Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa.
Psympathic IV. No.1 (2011): h. 278 – 288.
Mulyadi,
Seto, dkk. Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam
Psikologi. Ed. 1, Cet. 1. Jakarta: Rajawali Pers, 2016.
Haris,
M. Nafiul. Hubungan Antara Kreatif Dengan Belajar. Detiknews, 02 Agustus
2011.
Maulana,
Azyzah Gita, dkk. Peranan Kreativitas Dalam Belajar. Makalah Psikologi
Pendidikan yang disajikan pada diskusi kelas di Universitas Negeri Padang,
Padang, 2015.
Sabrin.
Hubungan Antara Kreativitas Siswa Dengan Hasil Belajar Akuntansi Siswa Kelas
XI SMK Negeri 1 Kendari. Selami IPS 34, no. 1. (2011): h. 53-64.
[1] Dindin
Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic
4, no. 1, (2011), h. 280.
[2] Seto Mulyadi,
dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam
Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h. 245-246.
[3] Seto Mulyadi,
dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam
Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h. 246.
[4] Seto Mulyadi,
dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam
Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h. 246.
[5] Seto Mulyadi,
dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam
Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h. 248.
[6] Seto Mulyadi,
dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam
Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h. 248-249.
[7] Seto Mulyadi,
dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam
Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h. 251-252.
[8] Seto Mulyadi,
dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam
Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h.252-253.
[9] Seto Mulyadi,
dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam
Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h. 252.
[10] Sudarwan
Danim, Perkembangan Peserta Didik, Bandung: Alfabeta, 2011, h. 133.
[11] Sudarwan
Danim, Perkembangan Peserta Didik, Bandung: Alfabeta, 2011, h. 133.
[15] Seto Mulyadi,
dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam
Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h. 250.
[19] Seto Mulyadi,
dkk, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Teori-teori Baru Dalam
Psikologi, Ed. 1, Cet. 1, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, h. 256-257.
[21] M. Nafiul
Haris, Hubungan Antara Kreatif Dengan Belajar, Detiknews, 02 Agustus 2011.
[22] Dindin
Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic
4, no. 1, (2011), h. 283.
[23] Dindin
Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic
4, no. 1, (2011), h. 282.
[24] Dindin
Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic
4, no. 1, (2011), h. 283.
[25] Sabrin, Hubungan Antara Kreativitas Siswa Dengan Hasil Belajar Akuntansi
Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Kendari, Selami IPS 34, no. 1. (2011), h. 62.
[26] M. Nafiul
Haris, Hubungan Antara Kreatif Dengan Belajar, Detiknews, 02 Agustus
2011.
[27] Dindin
Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic
4, no. 1, (2011), h. 283.
[28]
Dindin
Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic
4, no. 1, (2011), h. 284.
[29] Dindin
Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic
4, no. 1, (2011), h. 284.
[30] Dindin
Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic
4, no. 1, (2011), h. 283.
[31] Dindin
Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic
4, no. 1, (2011), h. 283.
[32] Dindin
Komarudin, Hubungan Antara Kreativitas Dengan Prestasi Belajar Siswa, Psympathic
4, no. 1, (2011), h. 283.
[33] Azyzah Gita Maulana, dkk, Peranan Kreativitas Dalam Belajar,
(Makalah Psikologi Pendidikan yang disajikan pada diskusi kelas di Universitas
Negeri Padang, Padang 2015), h. 8.
[34] M. Nafiul
Haris, Hubungan Antara Kreatif Dengan Belajar, Detiknews, 02 Agustus
2011.
[35] Azyzah Gita Maulana, dkk, Peranan Kreativitas Dalam Belajar,
(Makalah Psikologi Pendidikan yang disajikan pada diskusi kelas di Universitas
Negeri Padang, Padang 2015), h. 12.
[36]
Azyzah Gita Maulana, dkk, Peranan Kreativitas Dalam
Belajar, (Makalah Psikologi Pendidikan yang disajikan pada diskusi kelas di
Universitas Negeri Padang, Padang 2015), h. 13.

Komentar
Posting Komentar